Minggu, 01 November 2020

Rindu Menderu

RINDU MENDERU

Suara riuh di ruang tengah dan dapur rasanya tak membuat Junaedi bergeming untuk keluar dari kamarnya sore itu. Baginya, bersendiri di dalam kamar dan mengadu pada Sang Maha menjadi hal yang lebih menarik ketimbang bersendau gurau atau sekadar basa-basi dengan saudara dan tetangga sekitar yang datang membantu acara kirim doa dalam acara empat puluh harian nanti malam.

Empat puluh hari telah berlalu, tetapi kesedihan itu masih terus menderu. Tidak mudah bagi Junaedi untuk menghadapi keadaan bahwa dirinya telah menjadi yatim piatu. Bapaknya telah berpulang lebih dulu saat dia masih bersekolah di SMP. Kali ini ibunya. Sahabat dan panutannya. Perih bila harus mengingat bahwa dirinya kini sebatang kara.

Masih teringat libur semester lalu, dengan sangat serius ibunya bercerita bahwa kondisi jantungnya makin payah. Meskipun ibu terus meminum obat yang diberikan oleh dokter, tetapi rasanya itu tidak banyak membantu.

Dua minggu sebelum ibunya dipanggil ke pangkuan Illahi, Junaedi berada di situasi yang menggelisahkan. Junaedi harus mempersiapkan siding skripsinya di Jogjakarta. Mustahil baginya untuk pulang pergi setiap hari, menempuh perjalanan Ngawi-Jogjakarta. Dengan berat hati dan tentu dengan restu ibunya, Junaedi memilih bertahan di Jogjakarta dan menyelesaikan persiapan siadang skripsinya.

“Sudahlah, Le. Kamu selesaikan sidangmu segera ya, lalu pulang nemenin ibuk,” pesan ibu sebelum berangkat ke Jogjakarta setelah libur semester lalu usai.

“Baik, Buk. Aku akan segera ajukan jadwal sidang. Ibuk yang tenang ya, jangan banyak mikir dulu, toh kuliahku sudah mau selesai,” ujarnya pada ibu agar beliau tenang.

Di dalam kamar ibunya, sore itu, Junaedi kembali memutar semua kenangan bersama ibu. Membaca setiap larik pesan yang dikirim ibu melalui sms. Tidak ada yang terlewat. Untung saja tidak ada yang dihapus. Pesannya tentu akan dia jadikan wasiat berharga. Meskipun mungkin terlihat sangat biasa bagi orang lain.

“Le, jangan lupakan salatmu, ya. Apapun keadaanmu, jangan lupa sama Yang Nggawe Urip. Karena Dia sebaik-baik penolong. Bukan ibu atau siapa pun kelak,” kalimat itu seperti default diucapkan ibu saat mereka bertelepon.

“Le, kamu harus yakin seberat apa pun bebanmu, itu tidak akan berlangsung selamanya. Itu hanya sementara. Kamu harus selalu mengucap syukur dalam setiap situasimu. Enak ataupun engga enak. Jangan lupa bersyukur.”

Junaedi kali ini benar-benar menangis di hadapan Tuhannya. Sambil bertanya apa yang harus dia syukuri bila harta satu-satunya juga telah dipanggil pulang oleh-Nya. Junaedi bahkan belum sempat mengenakan toga tanda kebanggaan dan apresiasi terhadap perjuangan ibunya yang semasa hidupnya mengabdi menjadi guru SD itu.

Kemarin-kemarin Junaedi masih dapat menahan air mata di hadapan para kerabat yang datang melayat. Namun, kali ini Junaedi tidak mau jaim di hadapan Tuhan. Dia benar-benar merasa sendiri dan merindukan ibunya. Sudah tak dapat lagi kirim sms ataupun menelepon. Sudah tak dapat lagi menikmati lodeh terong, orek tempe dan tempe goreng kesukaannya lagi. Sudah tak dapat lagi berkeluh kesah karena dosennya yang galak. Semua kesempatan itu sudah hilang kini.

Ternyata kerinduan yang menderu kali ini benar-benar berat dan menyakitkan baginya.

https://youtu.be/CJC5PY5erzI 

Ratna Hadi
#singandwritechallenge
#day1
#ratnafeatmila
#sebulanjadibuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...