Senin, 01 Juli 2019

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)


Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan kontra atas rilisnya film ini. Saya sendiri sudah mendapatkan agitasi untuk tidak menonton film ini dengan resensi seseorang dari daring. Judulnya sudah bikin gemas karena menggunakan pilihan kata yang cukup ‘menggoda’. Hingga sepertinya kata pertama dari judul sudah membuat khalayak bereaksi bahkan sebelum nonton filmnya. Dan sengaja saya menuliskan resensi ini jauh setelah filmnya turun di jejaring XXI agar tidak membuat suasana makin panas. Padahal mungkin mas Garin Nugroho sebagai sutradara tetap adem ketika membuat film ini. Hehehe. Tercatat pemerintah daerah beberapa kota cukup besar di Indonesia melarang pemutaran film ini di kotanya dengan alasan tertentu. Hingga teman-teman saya di luar Jakarta mengirimkan emot menangis karenanya.




Durasi film ini adalah satu jam 47 menit. Cukup panjang untuk ukuran film Indonesia yang biasanya hanya sekitar 90 menit. Dengan alur maju mundur, penonton memang dibuat penasaran dengan jalannya cerita. Kisah Juno yang diambil berdasarkan kisah nyata seorang penari lengger ini memang ‘menuntut’ penonton berpikir sedikit lebih cerdas dengan mengikuti fragmen-fragmen adegan yang kadang berpindah cepat. Saya benar-benar mengosongkan asumsi bahwa film ini adalah film yang membahas tentang LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender/ Transeksual). Tidak mudah menonton sebuah karya seni dengan mengosongkan asumsi. Tapi itu ‘terpaksa’ saya lakukan untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih netral dan tujuan saya adalah untuk melihat budaya dan pelajaran gender yang diangkat dalam film tersebut.

Kisah Juno, seorang penari lengger dari pesisir selatan Jawa Tengah-Banyumas-yang kental dengan logat ngapaknya, merupakan kisah nyata. Sebuah sumber lain menuliskan bahwa tari Lengger-yang merupakan akronim dari eling ngger-berasal dari sebuah dusun bernama dusun Gianti, desa Kecis, kecamatan Selomerto, kabupaten Wonosobo, sekitar tahun 1910. Sumber lain menyebutkan  tarian ini memberikan nasihat dan pesan kepada setiap orang untuk dapat bersikap mengajak dan membela kebenaran dan menyingkirkan keburukan. Sepertinya Lengger lebih diaku berasal dari Banyumas karena pada praktiknya Lengger ini diiringi oleh gamelan calung yang berasal dari Banyumas. Tarian ini disebut juga tarian ronggeng atau tayub lelaki. Seperti pada umumnya, tarian ronggeng hamper selalu mengedepankan goyang pinggul pada setiap pertunjukkannya, tak terkecuali Lengger ini. Cukup menarik, bukan. Apalagi kalau ini ditarikan oleh lelaki.

Lho?!
Awalnya saya juga menganggap lengger atau ronggeng Banyumasan ini juga ditarikan oleh perempuan. Nyatanya tidak. Mereka hanya berdandan serupa perempuan. Mirip. Padahal istilah ronggeng itu sendiri adalah akronim dari ronging ketunggeng. Rong berarti gua atau lubang dan ketunggeng menggambarkan binatang yang suka menyengat. Sepertinya seru mengulik makna kata lengger ini sendiri. Karena Dinas Pariwisata dan Budaya Banyumas menuliskan bahwa lengger ini bermakna diarani leng jebule jenggeri (dikira babon/ ayam betina ternyata jengger atau ayam jantan). Namun, Sujiwo Tejo yang memerankan guru lengger mengajarkan pada Juno kecil bahwa jengger pada kata lengger ini bermakna kehormatan lelaki. Seperti pada ayam jago.

Film Kucumbu Tubuh Indahku dimulai dengan cerita masa kecil Juno. Yang suka mengintip para penari lengger berlatih menari. Lalu kemudian ‘tertangkap’ oleh Sujiwo Tejo-guru tari Lengger- dan ternyata Sujiwo Tejo mampu ‘membaca’ bakat dari Juno dengan gerak tubuhnya yang gemulai dalam menarikan sebuah gerakan di tari Lengger. Juno, yang terlahir sebagai laki-laki, ternyata memiliki skill dan perasaan yang halus, yang ditandai dengan gerakan yang gemulai dalam menari. Di adegan ini penonton dengan pemahaman gender yang sudah matang akan melihat ada sedikit ‘penyimpangan’ pada pesan adegan yang ditampilkan. Yaitu bahwa seorang laki-laki  Pada beberapa menit awal film ini, sudah muncul filosofi hidup yang dituturkan oleh si Guru Tari ini. Ini menurut saya sebuah ‘kode’ bahwa film ini akan sarat dengan filosofi Jawa tentang kehidupan.

Quote yang dapat saya tangkap pertama dalam film KTI (Kucumbu Tubuh Indahku) adalah kalau mau bisa belajar, kalau mau bagus latihan, kemudian dimantapkan (agar bisa menjadi keahlian). 
Quote ini diucapkan oleh Sujiwo Tejo saat merekrut Juno menjadi penari Lengger. Adegan ini tampak alamiah Jawa dengan dialog yang diselipi Bahasa Jawa. Namun sayang, Sujiwo Tejo mengalami sedikit terpeleset kata saat dialog di bagian ini. Seharusnya mengucapkan kata ‘tidak’ dalam Bahasa Jawa bukanlah ‘ga’ seperti yang diucapkan Sujiwo Tejo saat itu.

Adegan masa kanak-kanak Juno diperkuat dengan kesukaan Juno yaitu mengintip. Ciri khas anak usia 7-8 tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap lingkungan sekitar. Cukup menghibur hingga muncul adegan dewasa yaitu ketika wanita yang diklaim milik si guru tari ternyata malah menggoda asisten guru tari untuk diajak berhubungan badan. Sebelum adegan ini berlangsung, jembatan menuju ke sini adalah dengan adanya adegan genit si wanita termasuk kerling mata dan body language. Sampai di sini, pesan bahwa konstruksi gender wanita di masyarakat tradisional pinggiran adalah demikian. Apabila ‘pesan’ ini salah dimaknai, maka penonton akan bisa menangkap pesan bahwa perempuan genit dan menggoda adalah hal yang wajar dan semestinya. Padahal sebenarnya tidak seperti itu adat budaya Jawa memberikan pelajaran gender kepada anak-anak mereka.

Adegan dewasa hanya berlangsung beberapa menit saja itupun tidak secara jelas-hanya menimbulkan asumsi bagi penonton, kemudian kedua orang yang selesai berasyik masyuk tersebut tertangkap oleh Sujiwo Tejo yang kemudian dibantai dengan sadis oleh Sujiwo Tejo. Percikan darah yang menyebar ke mana-mana menggambarkan dengan sangat detail bahwa si guru tari ini adalah karakter lelaki yang sangat maskulin dan dominan. Akan marah dan menuntut balas bila merasa kehormatannya direnggut. Juno menyaksikan ini semua dan menyimpan trauma tersendiri. Darah adalah pengalaman traumatis bagi Juno kecil yang kemudian nanti dibawanya hingga dewasa. Ketakutan Juno terhadap darah atau luka jelas bertentangan dengan pelajaran gender di masyarakat yang Kemudian alur loncat dengan warga desa yang mengusung keranda, lalu adegan Juno ditinggalkan bapaknya dengan menggunakan pick-up terbuka, entah pergi ke mana. Salah satu sumber daring menyebutkan kepergian bapaknya Juno adalah karena korban politik. Juno berhari-hari selalu sabar dan setia menanti bapaknya pulang dengan selalu menyiapkan makanan. Rupanya sejak usia belia, Juno telah terbiasa masak dan melakukan kegiatan domestic lainnya. Untuk adegan ini, saya membayangkan apakah kehidupan tradisional wilayah Banyumas untuk anak semuda Juno, saat setting waktu dibuat, memang sekeras itu?

Tidak lama muncullah sosok Bulik Juno-diperankan sangat apik oleh Endah Laras-yang menjemput Juno dari rumahnya yang sangat seadanya. Menggunakan motor bebek dengan perhiasan emas di jarinya menggambarkan sosok Bulik Juno ini adalah ‘orang sukses’ di ukuran kehidupan masyarakat dengan setting lokasi dan tempat tersebut. Tidak disebutkan ini adalah Bulik Juno dari pihak ibunya atau bapaknya. Juno tampak kaget ketika dijemput oleh Bulik. Dan sang Bulik memberikan pelajaran tentang kehidupan bahwa mati pisah pindah adalah biasa dalam kehidupan. Sungguh kata yang sederhana namun dalam maknanya.

Babak kehidupan baru Juno dimulai dengan Bulik Juno yang tampak lebih baik ketimbang di dusunnya sendiri. Juno sekolah lagi. Dan mempunyai kemampuan bisa mengetahui kapan ayam bisa bertelur hanya dengan menggunakan jarinya. Akhirnya Juno disukai oleh masyarakat, tetangga sekitar tempat tinggal buliknya itu. Namun hal ini justru menutup pintu rejeki buliknya dan timbullah amarah buliknya. Juno dipukuli. Jarinya dipukul hingga tidak lagi bisa memeriksa dubur ayam untuk mengetahui kapan ayam akan bertelur.




Child abuse.
Juga dialami Juno. Penggambaran pola asuh tradisional pada masyarakat pinggiran juga sangat kental dikisahkan dalam film ini. Apapun yang tidak sesuai dengan nkai dan norma leluhur dianggap ‘bahan’ untuk bisa dijadikan alasan abusing. Demikian juga Bulik Juno memperlakukan Juno. Di tempat baru dengan sekolah baru, Juno juga mengikuti ekstra kurikuler menari. Guru tarinya kali ini adalah seorang guru perempuan yang masih relatif muda. Saat selesai latihan menari ada adegan bahwa guru tarinya ini  menawarkan pada Juno untuk memegang payudaranya. Lalu adegan berubah dengan penggerebekan warga atas guru tari wanita itu. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah praktik pedofilia ingin digambarkan Garin Nugroho melalui asumsi penonton?

Yang menarik dalam film ini adalah perpindahan setting waktu dan tempat kadang diselingi oleh monolog Juno yang penuh filosofi dalam bahasa Jawa ngapak Banyumasan. Sambal bermonolog, Juno ini melakukan olah tubuh seperti menari dan bermimik muka serius.
Beberapa tutur monolog Juno ini adalah tubuh itu hasrat, hasrat menggerakkan tubuh dan tidak ada batasan untuk hasrat. Sementara tubuh itu ada batasan seperti nlai dan norma mungkin maksudnya. Pengalaman tubuh bersama hasrat disimpan di tubuh sendiri. Bisa dibuat belajar. Setidaknya belajar buat diri sendiri.

Film ini makin membuat penonton ketika dalam menit ke-48 belum ada adegan atau dialog yang menggambarkan konflik puncak. Konflik kecil-kecil ‘diselesaikan’ dengan manis dengan dialog yang kadang mengundang gelak tawa penonton.



Juno Memasuki Usia Dewasa Muda
Setelah monolog Juno sambal berolah gerak tubuh, adegan berikutnya adalah loncat Juno dewasa muda. Agak bingung memang kalau menonton film ini tanpa konsentrasi tinggi, karena wajah pemeran Juno dewasa muda jauh berbeda dengan paras Juno anak-anak. Dan tidak ada dialog yang menggambarkan bahwa peran tersebut adalah si Juno.

Juno dewasa muda bekerja sebagai asisten tukang jahit baju. Penjahit ini juga bisa disebut sebagai guru kehidupan bagi Juno. Tidak juga diceritakan bagaimana perpisahan Juno dengan Bulik.
Mengapa saya menyebutkan bahwa penjahit itu adalah guru kehidupan bagi Juno, karena penjahit itu juga mengajarkan filosofi kehidupan yang dijadikan bekal bagi Juno untuk mengarungi kehidupan berikutnya.

Sang Penjahit itu mengajarkan Juno filosofi dalam mengukur badan untuk ukuran baju yaitu percaya dengan mata dan sambungkan dengan hati. Saya terdiam dalam cekat ketika bagian ini. Karena itu benar adanya. Segala sesuatu yang bersifat insting harus melalui jalur seperti itu. Bukan mengedepankan hati baru kemudian logika.

Sejak periode Juno dewasa ini kisah romance baru dimulai. Penjahit senior mempunyai klien langganan seorang petinju amatir. Di sana Juno mulai getaran perasaan emosional terhadap si petinju yang diperankan oleh Randy Pangalila. Sementara si petinju digambarkan sebagai seorang yang straight sehingga respon perasaan Juno terhadap petinju tidak terlalu mendapatkan tanggapan balik.  Juno dan Petinju semakin dekat. Juno sering menemani Petinju berlatih fisik untuk mengumpulkan uang demi menikahi tunangannya.



Dari beberapa adegan kedekatan Juno dengan Petinju, penonton secara lebih mendalam dapat belajar bahwa cinta itu adalah kata kerja searah. Mencintai dapat dilakukan satu pihak tanpa harus menuntut balik. Dan dalam hal mencintai, cinta itu sendiri tidak mengenal gender ternyata. Paradoks. Dan (sedikit) kontroversial, bukan. :) 

Setelah Juno beranjak dewasa, adegan monolog dengan bahasa dan dialek Banyumasan makin sering muncul dan memberikan filosofi kehidupan tentang bagaimana mencintai dan menerima diri dan tubuh sendiri. Seperti banyak kampanye yang dilakukan warganet. Badanmu akan membawamu kemana-mana. Trauma badan itu ada. Semua trauma bagian dari hidup. Cintai badanmu, itu yang akan membawa (mengarahkan) hidupmu.  

Konsep penerimaan terhadap diri sendiri (yang merupakan perpaduan antara jiwa dan raga) hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara jiwa telah dewasa.
Konsep Juno terhadap tubuhnya sendiri serta menerima ‘garis takdir’ yaitu ketertarikan terhadap jenis kelamin sejenis hanya muncul di bagian menuju akhir film tersebut. Dalam kondisi tersebut tetap digambarkan Juno memiliki konflik internal dalam perannya sebagai bottom dalam relasi yang dia bangun.

Kisah dan alur maju mundur yang disajikan Garis Nugroho secara manis disambungkan dengan kisah anak buah Bupati yang disuruh untuk mencari ‘tokoh’ yang dipercaya membawa keberuntungan sang Bupati. Kedua anak buah Bupati itu menyajikan scene yang kocak. Yaitu dengan mengukur tanah dengan menggunakan galah menuju arah yang disarankan seorang cenayang.




Tubuhku adalah alam. Sayang kalau tidak bisa mengurusnya, akan jadi bencana. Di dalam tubuh juga jadi bencana. Tubuh adalah medan perang. Perang Kurusetra. Di dalam tubuhku ada perang.  
Saat monolog ini diucapkan oleh Juno dewasa, saya benar-benar langsung memahami bahwa pesan yang disampaikan sungguh tak perlu diperdebatkan lagi. Bukankah masing-masing kita sering mengalami peperangan seperti yang disampaikan oleh Juno dalam monolognya itu. Siapa yang menang antara peperangan internal itu? Jawabnya ada pada masing-masing kita tentu saja. :) 

Setelah kedua anak buah Bupati (diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana-yang juga memerankan Pak Suripto di Dilan, Pak Bakri di Laskar Pelangi) menemukan bahwa orang yang mamu menyembuhkan Bupati dari sakitnya adalah si Juno, konflik antara Bupati dan Juno pun dimulai. Hubungan Bupati sendiri dengan istrinya menunjukkan ada pembelajaran tentang gender, yaitu ketika istri bupati digambarkan lebih dominan. Namun, menunjukkan sebuah ‘clue’ yang tidak beres dengan asistennya-yang dalam hubungannya dengan istri Bupati berberan sebagai buci. Rupanya pasangan itu menutupi bahwa sebenarnya Bupati tertarik dengan Juno dan istri bupati memiliki affair dengan asisten perempuannya :) 

Pada bagian ini agak mudah ditebak puzzle filmnya.

Bupati sungguh tertarik pada Juno karena pesona tubuh Juno ‘yang cantik’ dan kelembutan sikapnya. Konflik ini ditambah dengan istri Bupati yang menuntut bahwa jangan sampai masyarakat mengetahui ‘penyimpangan’ tersebut, apalagi mereka berada di kabupaten kecil di Jawa Tengah. Diperuncing dengan hadirnya warok yang melakukan klaim atas Juno sebagai gemblak-nya  dan diumumkan. Siapa yang berani menantang si Warok, jelaslah nyawa taruhannya. Kesan ini diperkuat dengan adegan reog di kebun jagung yang menyebabkan Juno teringat kembali dengan trauma darahnya.



Monolog Juno dewasa tentang tubuh adalah sarana peperangan digambarkan dengan sangat baik dalam konflik yang diciptakan pada bagian akhir ini.
Sungguh, menurut saya, ini adalah film yang mengajarkan konsep Love Yourself secara utuh dengan pelbagai konflik yang mewarnai. Ditutup dengan monolog dari Juno dewasa yang menuturkan tubuh yang sepi akan terus kalah.
Penonton diminta memahami makna dari kalimat itu sesuai dengan persepsi kedewasaannya masing-masing. Kisah Juno ini adalah kisah nyata penari yang bernama Rianto.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...