Rabu, 24 Juli 2019

LUKA BATIN MAY: DISEBABKAN OLEH EKSTERNAL TAPI MENULAR - (27 STEPS OF MAY)





Membaca judul film ini melalui selebaran yang dibagikan saat acara Woman March Jakarta, jujur, membuat saya bertanya-tanya penuh. Ini selebaran apa? Oh, film Indonesia. Film ini siapa yang main? Ah, ga kenal. Lalu masih terus bertanya: siapa penulis naskahnya? Huh, ga kenal juga. Kelar.
Selebaran yang ada di tangan saya waktu itu gambarnya persis seperti poster filmnya. Tanpa tagline apapun. Karena memang bukan buku yang harus diberikan tagline mungkin.

Film ini ditayangkan pertama pada tanggal 27 April 2019. Menarik, ya! Karena judulnya May tapi kok dirilis di bulan April. Disutradarai oleh Rhavi Bharwani, film ini menarik karena dapat dijadikan refleksi kepada masing-masing kita bahwa memelihara luka batin itu tidak akan pernah mendapatkan keuntungan. Sedikitpun. Sebaliknya. Justru akan dapat merusak diri sendiri dan sekitar. Juga menular.
Secara bodoh mungkin dapat saya tuliskan bahwa 27 Step of May, kemudian saya singkat dengan 27STOM, adalah film yang dibuat sebagai antithesis bahwa luka batin itu seyogianya memang diselesaikan dengan cara yang baik, benar, dan tidak perlu berlama-lama.   


Luka batin itu seyogianya memang diselesaikan dengan cara yang baik, benar, dan tidak perlu berlama-lama.

WOW…!

Dari sudut pandang yang lain film ini juga merupakan kritik keras terhadap kontruksi pemikiran masyarakat kita tentang bagaiamana tata laksana hukum dan rehabilitasi terhadap peristiwa perkosaan di negara ini. Bahwasanya korban juga harus mulai diperhatikan rehabilitasinya bukan malah sebaliknya, mendapat persekusi karena urusan pakaian.

Kok bisa?
Scene film dimulai dengan adegan anak perempuan SMP yang berada di pasar malam dengan raut yang bahagia kemudian dipotong dengan adegan perkosaan oleh beberapa (sepertinya ada tiga casting pemerkosa) yang tangannya bertato. Jelas, ini adalah penyampaian pesan ke masyarakat bahwa orang bertato itu  adalah bukan orang yang baik. Bisa melakukan tindak kejahatan di mana saja dan pada siapa saja. Stigma yang telah melekat ini mungkin memang tidak dapat disalahkan begitu saja. Namun, apakah stigma ini selamanya baik? Bisa kita pikirkan bersama, bukan. Meskipun….sekali lagi meskipun, sampai sekarang mungkin belum didapati tokoh politik atau tokoh agama yang mengenakan tato di tubuhnya.

Pesan awal seyogianya dapat ditangkap dengan jelas oleh orang dewasa yang menonton film ini. Seyogianya.

Masuk ke scene inti, diinformasikan kisah ini terjadi delapan tahun kemudian. Berarti tokoh May berusia sekitar 20-23 tahun. 20-an awal.  Digambarkan aktifitas harian antara May (Raihaanun) dengan Bapak (Lukman Sardi) sebagai pengrajin pakaian boneka. Mereka menjahit bajunya, memasangkan Pernik-pernik hingga mengemas dengan menggunakan kotak mika. Aktifitas ini mereka kerjakan tanpa berkata-kata. Kekuatan akting Raihaanun dalam film ini patut diacungi dua jempol. Karena kalau lebih dari dua, saya tidak tahu jempol siapa yang bisa saya pinjam untuk saya acungkan padanya. Mengingatkan saya pada film Silence of the Lamb yang kuat dengan acting Anthony de Hopkins saat memerankan Hannibal Lector dengan raut muka yang begitu datar. Bedanya, di 27STOM ini Raihaanun harus benar-benar berakting dengan raut wajah yang sangat datar untuk menunjukkan bahwa dia adalah tokoh May yang menyimpan trauma dan trauma itu membuatnya melakukan aktifitas secara runut hari demi hari.
Adegan ini juga cukup membosankan bagi penonton, tentunya. May membangun dunianya sendiri tidak melebihi pintu kamarnya. Kalaupun harus keluar kamar, itu dia lakukan untuk makan di meja makan. May mengenakan pakaian yang sama berwarna krem muda yang ia setrika setiap pagi ketika akan dipakai. Tidak lupa kaos kaki putih setinggi bawah lutut. Juga makan makanan yang serba putih: nasi putih, telur kampung, tahu putih rebus, dan tauge. Alat makan yang dipakainya juga serba putih. Sampai di bagian ini penonton tentu saja dibawa ke sebuah pertanyaan besar: mengapa putih? Apakah ada kaitan yang erat antara penderita trauma pasca perkosaan dengan atribut serba putih ini.




Sementara akting Raihanun harus diadu dengan kemampuan akting aktor kawakan Lukman Sardi yang pada film ini digambarkan sebagai bapak yang raut mukanya selalu suspicious  terhadap tingkah laku May, anaknya.

Pada scene adalanya kebakaran pada menit ke-12, yaitu kebakaran di tetangga mereka, Bapaknya May dengan segala kebingungannya harus memaksa May untuk keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. May bersikeras untuk tinggal dan bapaknya semakin memaksa May untuk keluar dengan cara menariknya. Bagian ini seperti menarik kembali ingatan May kepada trauma delapan tahun lalu: perkosaan yang dialaminya.

Surprisingly! Ketika May teringat akan kenangan itu, yang kemudian dia lakukan adalah berusaha menyakiti tubuhnya sendiri dengan menyayat nadi kirinya di kamar mandinya sendiri.

Kehadiran Verdi Soleman sebagai kawan dari bapaknya May yang setiap hari mengantar bahan baku boneka dan mengambil boneka yang selesai dihias cukup membuat film ini terasa segar di tengah scene yang tanpa dialog. Bagaimana Verdi menjadi kawan yang memahami ‘batas’ yang tidak boleh diinjaknya yaitu pintu rumah May. Juga sikap sok tau Verdi tentang hal supranatural yang menimpa May dan bapaknya cukup menyegarkan. Verdi pada kemunculan ke sekian membawa paranormal yang melakukan ritual untuk mengusir setan yang dianggap menempel pada May.

Bagian ini cerminan bagi sekitar tentang bagaimana masyarakat kita mencari jalan keluar untuk masalah psikologis dengan membenturkannya dengan ritual agamawi atau bahkan hal kesupranaturalan. Miris? Ya. Tapi ini cerminan nyata. Namun, tugas siapa ini sebenarnya untuk meluruskannya?

Film memasuki bagian puncaknya dengan kemunculan lubang intip di dinding yang cukup mengganggu konsentrasi May. May berusaha acuh dengan lubang itu, tetapi mau tidak mau tetap melirik dan memberikan perhatian. Pertama May berusaha menutup lubang itu dengan lakban. Kemudian muncul tali warna dan dilanjutkan dengan tikus putih. Kehadiran tikus putih ini cukup menyita perhatian May karena May harus menangkap dan mencari toples untuk tempat hidup si tikus, pada scene berikutnya, si tikus ditukar oleh bunga. May mulai mengetahui bahwa di balik tembok yang berlubang itu ada tukang sulap dengan kostum tuxedo yang cukup menarik hati. Diperankan oleh Ario Bayu. Kerling mata dan raut mimik Ario Bayu cukup dewasa untuk memerankan pria yang mampu memikat hati wanita yang beranjak dewasa. Tidak dijelaskan sebelumnya bagaimana awal kisah mereka bisa bertetangga. Dan bagian ini cukup membuat penonton  bertanya-tanya.

Kehadiran pesulap ini membawa ‘pesan’ bahwa pesulap dapat melakukan perubahan yang mendadak atas suatu situasi. Mengapa tidak profesi yang lain?



Perubahan sikap May ini mulai diamati oleh bapaknya. Dan menceritakan perubahan yang dimaksud pada Verdi Soleman, kawan serta rekan bisnisnya. Dan Verdi datang kembali membawakan paranormal kedua untuk rumah May. Pada saat itu, lubang intip di kamar May semakin besar. Sementara rutinitas keseharian May dan bapaknya tampak sangat menjemukan. May kembali hanya makan makanan yang serba putih: nasi putih, sayur tauge, tahu putih rebus, dan telur rebus. Raihaanun memerankan tokoh May dengan tangan tremor dengan sangat baik. Sementara itu kelincahan tangan Lukman Sardi saat melakukan crafting juga saya yakin butuh latihan yang tidak sebentar. Karena scene yang di zoom-in menampakkan keluwesan itu. Bravo untuk mas Lukman!
Pada scene ketika lubang intip makin besar dan Ario Bayu berusaha berkenalan dengan akting pantomime pesulap untuk memegang tangan May, itu membuat May kembali trauma. Ia kembali merasa seperti akan dipaksa dan kembali terlintas di benaknya peristiwa perkosaan itu.

Pada menit ke-60, konflik mulai nampak ketika Lukman Sardi menampakkan konflik internal emosinya dengan berlatih tinju di kamarnya sendiri dengan menggunakan samsak. 

Ada amarah yang tidak selesai. Ada emosi yang  tidak dituntaskan. Antara masa kini dan masa lalu.

Sementara itu pada saat yang bersamaan, May juga sedang bergulat dengan kondisi emosinya. Ketika si pesulap memainkan alat sulap berupa borgol dan sarung tangan. Hal ini mengingatkan pada May tentang trauma ketika tangannya dicengkeram pemerkosa saat perkosaan itu terjadi. Sebuah pengingat bagi May dan akhirnya May memilih berlari sembunyi dan melakukan self-harm. Padahal saat itu May sudah mulai berkreasi dengan baju yang baru untuk boneka-bonekanya. May membuat baju model baru untuk boneka-boneka dengan model baju tuxedo pesulap lengkap dengan topi yang tinggi.

Sejak scene May dan bapaknya mengalami konflik internal ini, terasa alur film seperti cepat. Terkesan ngebut  malah. Mungkin diharapkan segera sampai di akhir cerita atau akhir konflik. Namun menurut saya alur film menjadi kurang asyik. Padahal konflik yang diangkat saat May cemburu dengan adik kandung si pesulap bahkan menirukan gerakan menjadi asisten sulap hingga memotong sendiri rambutnya mengikuti model si adik kandung itu sangat menarik. Ini akan menjadi pembelajaran bagi penonton bahwa sesungguhnya penderita gangguan psikis juga mengalami fase tertarik dengan lawan jenis. Bukankah ini akan menarik untuk disampaikan pada awam bila berdasarkan keilmuan yang kuat.

Belum lagi saat bapaknya May justru terjerat pada pusaran amarahnya sendiri hingga membawa pengaruh buruk terhadap pekerjaannya sebagai petinju, itu cukup menarik. Namun intercut antara acting lukman sardi saat bertinju dan kemudian di penjara dengan adegan May dengan si pesulap cukup membuat lompatan asumsi dan teka-teki bagi penonton. Padahal, sekali lagi menurut saya, kalau itu dibuat lebih pelan mungkin justru akan lebih menyenangkan bagi penonton.

Digambarkan ketika bapaknya dipenjara dan tidak pulang, justri memberikan pelajaran kepada May untuk bisa menyiapkan makanannya sendiri serta mau makan jenis makanan lain selain yang berwarna putih. Sebenarnya ini adalah perkembangan yang baik bagi May yang seyogianya disaksikan oleh bapaknya.  Namun, Lukman Sardi yang memerankan bapaknya May justru ‘sibuk’ dengan amarahnya yang sulit dikendalikan olehnya sendiri. Saat adegan May dan bapaknya makan satu meja lagi, tampak May mulai responsif dengan makanan yang berbeda dan mau menggeser piringnya. Meskipun antara keduanya masih belum ada dialog.

Tanpa sepengetahuan bapaknya, hubungan May dengan pesulap semakin dekat dengan makin besarnya lubang intip yang tadinya kecil hingga dapat dilewati seorang dewasa. Bahkan May juga pernah menolong si pesulap saat ia terjebak di alat sulapnya yang cukup membahayakan. Hal ini menunjukkan bahwa May, sebagai penderita gangguan psikologis pasca trauma, ternyata memiliki respon yang baik untuk menolong sesame ketika orang lain mendapat kesusahan. Ada respon positif dalam sikap May.

Pada adegan si pesulap masuk kamar May untuk menolong May, dan akhirnya bapaknya mengetahui hal itu, bapaknya May justru menghajar si pesulap karena beranggapan bahwa si pesulap akan mencelakai May. Pergulatan antara pesulap dan bapaknya, justru membuat May makin terpuruk secara psikis dan itu sangat mengingatkannya akan peristiwa lama. May kembali masuk ke kamar mandi, menguncinya dan kembali menyayat tangannya sendiri. Tata kosmetik yang sempurna untuk bekas luka May di tangan yang di-zoom in­ saat May menyayat luka baru.

Detail yang dikerjakan dalam film ini sangati istimewa.

Menjelang akhir film, konflik yang terjadi ditengahi lagi oleh kehadiran Verdi Soleman yang kembali menampar Bapak dengan kata-katanya bahwa “Apapun yang sudah kejadian, ga bisa dibalikin lagi. Di luar kontrol kita, dan bukan salah kita.”

Apapun yang sudah kejadian, ga bisa dibalikin lagi. Di luar kontrol kita, dan bukan salah kita.

Quote yang menarik, bukan? Karena sering kali kita lupa bahwa kita selalu ingin mengubah masa lalu yang jelas tidak dapat kita lakukan.


Alur yang menarik menjelang akhir film adalah ketika May dengan mengenakan pakaian seragam SMP meminta role play diperkosa oleh Pesulap di atas meja. Pesulap semakin paham perannya untuk membantu May dalam menyembuhkan traumanya. Closing film ini ditutup dengan cukup menyenangkan ketika May ganti baju serta memeluk Bapak dan berkata, “bukan salah Bapak.”

-----m.a-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...