Minggu, 28 Juli 2019

Belajar Menjadi Laki-Laki dari Film Malaikat Tanpa Sayap




Dalam hidup, ga ada jaminan untuk terus bahagia, ga ada kepastian buat apapun, setiap orang bisa terlempar dari kotak rasa nyamannya, secara tiba-tiba.

Film yang sudah dirilis pada 9 Maret 2012 ini cukup menarik untuk ditonton lagi. Diperankan oleh banyak aktor dan aktris muda Indonesia menjadikan film ini semacam film filosofi kehidupan yang kemasannya ringan.

Film dibuka dengan monolog Vino tentang labeling yang ada di sekitar kita. Ketika hidup kita melekat pada pelabelan itu, dan label itu dilepas, kita bukanlah siapa-siapa. Kemudian adegan bahwa Vino dikeluarkan dari sekolahnya karena tidak membayar uang sekolah lebih dari tiga bulan, meskipun Vino telah bersikeras bahwa bapaknya adalah donatur terbesar buat sekolah Vino pada masanya.



Menceritakan kisah Vino (diperankan oleh Adipati Dolken) yang merupakan anak pengusaha kaya yang sedang bangkrut yaitu Amir (Surya Saputra). Amir digambarkan mempunyai karakter yang keras, idealis, dan penyayang keluarga. Kebangkrutan Amir membuat Mirna (Kinaryosih memerankannya dengan sangat apik) memilih meninggalkan suami dan anak-anaknya. Dialog antara Mirna dan Amir saat Mirna akan pergi adalah protret jujur masyarakat kita tentang perpisahan. Meskipun tidak pernah ada data pasti mengenai hal ini. Yaitu apakah harta memang menjadi penyebab utama perpisahan dan pernikahan. Dialog tajam yang dilontarkan Mirna dan tentu saja menjadi entry point mengapa bisa belajara menjadi laki-laki melalui film ini. Mirna setengah berteriak mengatakan pada suaminya, Amir, “Suami lain bahkan mencuri untuk bisa ngasih makan keluarganya.”

Tentu saja ini adalah pembelajaran yang salah. Namun, bila kita mau menggeser sedikit sudut pandang kita menjadi positif, dialog itu memberikan pesan bahwa seorang laki-laki diharapkan menjunjung tinggi keutuhan keluarganya meskipun badai kehidupan sedang menimpa. Ini tidak bisa ditelan sebegitu mudahnya. Dalam setiap perpisahan tentu ada pilihan yang sulit sebelumnya. Amir digambarkan sebagai seorang suami yang memilih untuk tetap bersama keluarganya dan tidak meninggalkan untuk memilih menyendiri saat mengalami kebangkrutan.

Sialnya, saat Mirna mengatakan kalimat itu, Vino mendengar ucapan ibunya dan membuatnya berpikir bahwa ‘sepertinya menghalalkan cara untuk keluarga itu baik adanya’.

Kita memang hidup dalam kotak-kotak, dalam sekat-sekat, pelabelan. Dan saat label kita dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi.

Di saat keriuhan hati karena perpisahan antara Mirna dan Amir, Wina (adik Vino – diperankan oleh Gecha Tavvara) mendapat kecelakaan di kamar mandi, dibawa ke rumah sakit, memerlukan tranfusi golongan darah A dengan rhesus negative. Menurut saya, scene dari perpisahan hingga kecelakaan yang menimpa Wina berjalan begitu cepat. Belum lagi di rumah sakit Vino bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda) serta calo organ (diperankan oleh Agus Kuncoro). Bila sebelum nonton film sudah membaca sedikit sinopsisnya, dari adegan ini tentu sudah menemukan ending film. Meskipun dikemas cukup berliku dengan adanya roman antara Vino dan Mura sebelumnya. Sebab, adegan ini terjadi pada 30 menit awal film.


Masuk ke babak konflik kedua – setelah konflik pertama tentang Vino dan keluarga intinya cukup reda dengan terselesaikannya masalah biaya rumah sakit dan menebus kembali rumah Amir yang disita bank. Tanpa sepengetahuan siapa pun Vino mengadakan perjanjian dengan Agus Kuncoro (sebagai calo) bahwa Vino siap mendonorkan organ dalamnya – berupa jantung. Agus Kuncoro dengan kemampuan aktingnya mampu menekan psikis Vino. Dialek dan mimik muka Agus Kuncoro sangat sesuai dengan casting ini.  Dua jempol untuk peran anatagonis ini, Mas Agus!

Konflik kedua adalah tentang Vino dengan kegundahannya setelah mengetahui calon penerima donasi organnya adalah Mura.
Adipati Dolken dengan perannya sebagai Vino kali ini mengajarkan kepada penonton untuk rela berkorban demi keluarganya. Meskipun, saya yakin, tidak semua orang dapat dengan mudahnya dengan ide yang diambil oleh Vino ini. Vino berubah dari sosok lelaki muda yang tidak peduli dengan keluarga menjadi sebaliknya.



Sementara penonton mendapat pelajaran ‘how to be a good son’ dari sosok Vino, Amir-bapak Vino- mengajarkan penonton tentang ‘how to be a good daddy’ dengan tetap menunjukkan bagiannya untuk menghidupi anak-anaknya sebagai sopir taksi, yang bahkan mendapat penghakiman melalui lirikan mata. Juga, Wina mendapatkan perundungan dari teman-temannya karena mengetahui bapaknya adalah seorang pengemudi taksi. Ini juga cermin nyata bahwa masyarakat kita masih lekat dengan perundungan karena jenis pekerjaan, apalagi perundungan kelas sosial. Miris.

“Kadang untuk ninggalin temen yang kita sayang, kita perlu membuatkan marah dan sakit hati, agar saat kita meninggalkan kita tidak terlalu merasa kehilangan”
“Kematian itu seperti di tikungan jalan. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di balik tikungan itu. Dan mungkin itulah saat kita mati.”


Scene lukisan pasir
Tentang sosok laki-laki dalam dongeng yang bernama Amarah dan seorang perempuan yang bernama Bening. Amarah yang mau menyumbangkan hidupnya untuk bening, dalam dongeng lukisan pasir itu, membuat Mura bersedih karena ia yakin tidak ada orang yang mau menyumbangkan hidup baginya. Dan itu dikatakannya pada Vino, seseorang laki-laki yang sayang padanya dan akan segera mendonorkan jantung untuk Mura. Pada saat kondisi tersebut, kondisi Mura sudah semakin lemah. Pilihannya hanya menantikan pendonor jantung atau menjemput kematian di usia yang masih sangat belia.
Cinta bukan masalah memiliki, cinta adalah keberanian pergi atau ditinggal pergi.


Memasuki delapan menit akhir, adegan Mirna ingin menculik Wina di rumahnya sendiri. Bersama dengan seorang laki-laki. Sementara Vino menyiapkan sedang surat pamitan dengan hati hancur dan menenggak beberapa butir obat pemberian Calo. Intercut antara usaha penculikan Wina oleh Mirna dengan adegan Vino menjemput maut sungguh manis untuk menggambarkan akhir konflik yang kian tajam di bagian akhir. Akhirnya Amir muncul dari luar rumah dan terjadi perseteruan dengan Mirna. Perseteruan ini membuat teman  Mirna menembak Amir di depan Wina saat Amir berusaha melarang Mirna untuk membawa paksa Wina. Amir jatuh tersungkur karena tembakan di dada kirinya, Vino terjatuh di kasur dalam kamarnya sendiri setelah menenggak beberapa butir obat berwana kuning. Tidak dijelaskan itu obat apa.

Kegundahan Mura saat akan dioperasi.
Mura yang sedang mempersiapkan operasi dengan didampingi papanya (yang diperankan oleh Ikang Fawzi)sebenarnya sedang menantikan Vino untuk datang dan menemaninya menjelang operasi. Ketakutan ini wajar dan umum terjadi di kalangan kita ketika seseorang akan menghadapi operasi. Apapun itu bentuknya. Amir menggantikan peran Vino untuk donor jantung, di detik-detik terakhir.  Demikian pesan Amir kepada paramedis dan si calo di depan rumah sakit. Bagian akhir film ini sungguh sangat mendebarkan. Ditutup dengan Mura mendatangi makam. Bersama Vino. Makam Amir. Sementara papa Mura akhirnya juga menjadi papa bagi Wina
Tapi kadang dalam hidup kita tidak dihadapkan pada pilihan. Dalam hidup ga ada jaminan untuk terus bahagia. Seperti burung-burung senja itu, yang bisa mendadak melayang jatuh, ga pernah bisa kembali ke sarang mereka, tapi bagi aku dan Mura waktu pernah mematahkan sayap-sayap kami dan waktu pula yang menyembuhkannya kembali.


Kesimpulan akhir saya buat film ini adalah bahwa film ini mematahkan stigma bahwa film-film Indonesia sarat dengan roman picisan yang plotnya remeh dan mudah ditebak. Suka dengan film Indonesia yang mendidik ini!


MALAIKAT TANPA SAYAP
Sutradara            : Rako Prijanto
Produser             : Chand Parwes Servia
Pemeran             :
-          Adipati Dolken sebagai Vino
-          Maudy Ayunda sebagai Mura
-          Ikang Fawzi sebagai Papa Mura
-          Surya Saputra sebagai Amir (Ayah Vino)
-          Agus Kuncoro sebagai Calo
-          Kinaryosih sebagai Mirna (Ibu Vino)
-          Geccha Qheagaveta sebagai Wina
Musik                    : Tya Subiakto
Tanggal rilis         : 9 Maret 2012


Rabu, 24 Juli 2019

LUKA BATIN MAY: DISEBABKAN OLEH EKSTERNAL TAPI MENULAR - (27 STEPS OF MAY)





Membaca judul film ini melalui selebaran yang dibagikan saat acara Woman March Jakarta, jujur, membuat saya bertanya-tanya penuh. Ini selebaran apa? Oh, film Indonesia. Film ini siapa yang main? Ah, ga kenal. Lalu masih terus bertanya: siapa penulis naskahnya? Huh, ga kenal juga. Kelar.
Selebaran yang ada di tangan saya waktu itu gambarnya persis seperti poster filmnya. Tanpa tagline apapun. Karena memang bukan buku yang harus diberikan tagline mungkin.

Film ini ditayangkan pertama pada tanggal 27 April 2019. Menarik, ya! Karena judulnya May tapi kok dirilis di bulan April. Disutradarai oleh Rhavi Bharwani, film ini menarik karena dapat dijadikan refleksi kepada masing-masing kita bahwa memelihara luka batin itu tidak akan pernah mendapatkan keuntungan. Sedikitpun. Sebaliknya. Justru akan dapat merusak diri sendiri dan sekitar. Juga menular.
Secara bodoh mungkin dapat saya tuliskan bahwa 27 Step of May, kemudian saya singkat dengan 27STOM, adalah film yang dibuat sebagai antithesis bahwa luka batin itu seyogianya memang diselesaikan dengan cara yang baik, benar, dan tidak perlu berlama-lama.   


Luka batin itu seyogianya memang diselesaikan dengan cara yang baik, benar, dan tidak perlu berlama-lama.

WOW…!

Dari sudut pandang yang lain film ini juga merupakan kritik keras terhadap kontruksi pemikiran masyarakat kita tentang bagaiamana tata laksana hukum dan rehabilitasi terhadap peristiwa perkosaan di negara ini. Bahwasanya korban juga harus mulai diperhatikan rehabilitasinya bukan malah sebaliknya, mendapat persekusi karena urusan pakaian.

Kok bisa?
Scene film dimulai dengan adegan anak perempuan SMP yang berada di pasar malam dengan raut yang bahagia kemudian dipotong dengan adegan perkosaan oleh beberapa (sepertinya ada tiga casting pemerkosa) yang tangannya bertato. Jelas, ini adalah penyampaian pesan ke masyarakat bahwa orang bertato itu  adalah bukan orang yang baik. Bisa melakukan tindak kejahatan di mana saja dan pada siapa saja. Stigma yang telah melekat ini mungkin memang tidak dapat disalahkan begitu saja. Namun, apakah stigma ini selamanya baik? Bisa kita pikirkan bersama, bukan. Meskipun….sekali lagi meskipun, sampai sekarang mungkin belum didapati tokoh politik atau tokoh agama yang mengenakan tato di tubuhnya.

Pesan awal seyogianya dapat ditangkap dengan jelas oleh orang dewasa yang menonton film ini. Seyogianya.

Masuk ke scene inti, diinformasikan kisah ini terjadi delapan tahun kemudian. Berarti tokoh May berusia sekitar 20-23 tahun. 20-an awal.  Digambarkan aktifitas harian antara May (Raihaanun) dengan Bapak (Lukman Sardi) sebagai pengrajin pakaian boneka. Mereka menjahit bajunya, memasangkan Pernik-pernik hingga mengemas dengan menggunakan kotak mika. Aktifitas ini mereka kerjakan tanpa berkata-kata. Kekuatan akting Raihaanun dalam film ini patut diacungi dua jempol. Karena kalau lebih dari dua, saya tidak tahu jempol siapa yang bisa saya pinjam untuk saya acungkan padanya. Mengingatkan saya pada film Silence of the Lamb yang kuat dengan acting Anthony de Hopkins saat memerankan Hannibal Lector dengan raut muka yang begitu datar. Bedanya, di 27STOM ini Raihaanun harus benar-benar berakting dengan raut wajah yang sangat datar untuk menunjukkan bahwa dia adalah tokoh May yang menyimpan trauma dan trauma itu membuatnya melakukan aktifitas secara runut hari demi hari.
Adegan ini juga cukup membosankan bagi penonton, tentunya. May membangun dunianya sendiri tidak melebihi pintu kamarnya. Kalaupun harus keluar kamar, itu dia lakukan untuk makan di meja makan. May mengenakan pakaian yang sama berwarna krem muda yang ia setrika setiap pagi ketika akan dipakai. Tidak lupa kaos kaki putih setinggi bawah lutut. Juga makan makanan yang serba putih: nasi putih, telur kampung, tahu putih rebus, dan tauge. Alat makan yang dipakainya juga serba putih. Sampai di bagian ini penonton tentu saja dibawa ke sebuah pertanyaan besar: mengapa putih? Apakah ada kaitan yang erat antara penderita trauma pasca perkosaan dengan atribut serba putih ini.




Sementara akting Raihanun harus diadu dengan kemampuan akting aktor kawakan Lukman Sardi yang pada film ini digambarkan sebagai bapak yang raut mukanya selalu suspicious  terhadap tingkah laku May, anaknya.

Pada scene adalanya kebakaran pada menit ke-12, yaitu kebakaran di tetangga mereka, Bapaknya May dengan segala kebingungannya harus memaksa May untuk keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. May bersikeras untuk tinggal dan bapaknya semakin memaksa May untuk keluar dengan cara menariknya. Bagian ini seperti menarik kembali ingatan May kepada trauma delapan tahun lalu: perkosaan yang dialaminya.

Surprisingly! Ketika May teringat akan kenangan itu, yang kemudian dia lakukan adalah berusaha menyakiti tubuhnya sendiri dengan menyayat nadi kirinya di kamar mandinya sendiri.

Kehadiran Verdi Soleman sebagai kawan dari bapaknya May yang setiap hari mengantar bahan baku boneka dan mengambil boneka yang selesai dihias cukup membuat film ini terasa segar di tengah scene yang tanpa dialog. Bagaimana Verdi menjadi kawan yang memahami ‘batas’ yang tidak boleh diinjaknya yaitu pintu rumah May. Juga sikap sok tau Verdi tentang hal supranatural yang menimpa May dan bapaknya cukup menyegarkan. Verdi pada kemunculan ke sekian membawa paranormal yang melakukan ritual untuk mengusir setan yang dianggap menempel pada May.

Bagian ini cerminan bagi sekitar tentang bagaimana masyarakat kita mencari jalan keluar untuk masalah psikologis dengan membenturkannya dengan ritual agamawi atau bahkan hal kesupranaturalan. Miris? Ya. Tapi ini cerminan nyata. Namun, tugas siapa ini sebenarnya untuk meluruskannya?

Film memasuki bagian puncaknya dengan kemunculan lubang intip di dinding yang cukup mengganggu konsentrasi May. May berusaha acuh dengan lubang itu, tetapi mau tidak mau tetap melirik dan memberikan perhatian. Pertama May berusaha menutup lubang itu dengan lakban. Kemudian muncul tali warna dan dilanjutkan dengan tikus putih. Kehadiran tikus putih ini cukup menyita perhatian May karena May harus menangkap dan mencari toples untuk tempat hidup si tikus, pada scene berikutnya, si tikus ditukar oleh bunga. May mulai mengetahui bahwa di balik tembok yang berlubang itu ada tukang sulap dengan kostum tuxedo yang cukup menarik hati. Diperankan oleh Ario Bayu. Kerling mata dan raut mimik Ario Bayu cukup dewasa untuk memerankan pria yang mampu memikat hati wanita yang beranjak dewasa. Tidak dijelaskan sebelumnya bagaimana awal kisah mereka bisa bertetangga. Dan bagian ini cukup membuat penonton  bertanya-tanya.

Kehadiran pesulap ini membawa ‘pesan’ bahwa pesulap dapat melakukan perubahan yang mendadak atas suatu situasi. Mengapa tidak profesi yang lain?



Perubahan sikap May ini mulai diamati oleh bapaknya. Dan menceritakan perubahan yang dimaksud pada Verdi Soleman, kawan serta rekan bisnisnya. Dan Verdi datang kembali membawakan paranormal kedua untuk rumah May. Pada saat itu, lubang intip di kamar May semakin besar. Sementara rutinitas keseharian May dan bapaknya tampak sangat menjemukan. May kembali hanya makan makanan yang serba putih: nasi putih, sayur tauge, tahu putih rebus, dan telur rebus. Raihaanun memerankan tokoh May dengan tangan tremor dengan sangat baik. Sementara itu kelincahan tangan Lukman Sardi saat melakukan crafting juga saya yakin butuh latihan yang tidak sebentar. Karena scene yang di zoom-in menampakkan keluwesan itu. Bravo untuk mas Lukman!
Pada scene ketika lubang intip makin besar dan Ario Bayu berusaha berkenalan dengan akting pantomime pesulap untuk memegang tangan May, itu membuat May kembali trauma. Ia kembali merasa seperti akan dipaksa dan kembali terlintas di benaknya peristiwa perkosaan itu.

Pada menit ke-60, konflik mulai nampak ketika Lukman Sardi menampakkan konflik internal emosinya dengan berlatih tinju di kamarnya sendiri dengan menggunakan samsak. 

Ada amarah yang tidak selesai. Ada emosi yang  tidak dituntaskan. Antara masa kini dan masa lalu.

Sementara itu pada saat yang bersamaan, May juga sedang bergulat dengan kondisi emosinya. Ketika si pesulap memainkan alat sulap berupa borgol dan sarung tangan. Hal ini mengingatkan pada May tentang trauma ketika tangannya dicengkeram pemerkosa saat perkosaan itu terjadi. Sebuah pengingat bagi May dan akhirnya May memilih berlari sembunyi dan melakukan self-harm. Padahal saat itu May sudah mulai berkreasi dengan baju yang baru untuk boneka-bonekanya. May membuat baju model baru untuk boneka-boneka dengan model baju tuxedo pesulap lengkap dengan topi yang tinggi.

Sejak scene May dan bapaknya mengalami konflik internal ini, terasa alur film seperti cepat. Terkesan ngebut  malah. Mungkin diharapkan segera sampai di akhir cerita atau akhir konflik. Namun menurut saya alur film menjadi kurang asyik. Padahal konflik yang diangkat saat May cemburu dengan adik kandung si pesulap bahkan menirukan gerakan menjadi asisten sulap hingga memotong sendiri rambutnya mengikuti model si adik kandung itu sangat menarik. Ini akan menjadi pembelajaran bagi penonton bahwa sesungguhnya penderita gangguan psikis juga mengalami fase tertarik dengan lawan jenis. Bukankah ini akan menarik untuk disampaikan pada awam bila berdasarkan keilmuan yang kuat.

Belum lagi saat bapaknya May justru terjerat pada pusaran amarahnya sendiri hingga membawa pengaruh buruk terhadap pekerjaannya sebagai petinju, itu cukup menarik. Namun intercut antara acting lukman sardi saat bertinju dan kemudian di penjara dengan adegan May dengan si pesulap cukup membuat lompatan asumsi dan teka-teki bagi penonton. Padahal, sekali lagi menurut saya, kalau itu dibuat lebih pelan mungkin justru akan lebih menyenangkan bagi penonton.

Digambarkan ketika bapaknya dipenjara dan tidak pulang, justri memberikan pelajaran kepada May untuk bisa menyiapkan makanannya sendiri serta mau makan jenis makanan lain selain yang berwarna putih. Sebenarnya ini adalah perkembangan yang baik bagi May yang seyogianya disaksikan oleh bapaknya.  Namun, Lukman Sardi yang memerankan bapaknya May justru ‘sibuk’ dengan amarahnya yang sulit dikendalikan olehnya sendiri. Saat adegan May dan bapaknya makan satu meja lagi, tampak May mulai responsif dengan makanan yang berbeda dan mau menggeser piringnya. Meskipun antara keduanya masih belum ada dialog.

Tanpa sepengetahuan bapaknya, hubungan May dengan pesulap semakin dekat dengan makin besarnya lubang intip yang tadinya kecil hingga dapat dilewati seorang dewasa. Bahkan May juga pernah menolong si pesulap saat ia terjebak di alat sulapnya yang cukup membahayakan. Hal ini menunjukkan bahwa May, sebagai penderita gangguan psikologis pasca trauma, ternyata memiliki respon yang baik untuk menolong sesame ketika orang lain mendapat kesusahan. Ada respon positif dalam sikap May.

Pada adegan si pesulap masuk kamar May untuk menolong May, dan akhirnya bapaknya mengetahui hal itu, bapaknya May justru menghajar si pesulap karena beranggapan bahwa si pesulap akan mencelakai May. Pergulatan antara pesulap dan bapaknya, justru membuat May makin terpuruk secara psikis dan itu sangat mengingatkannya akan peristiwa lama. May kembali masuk ke kamar mandi, menguncinya dan kembali menyayat tangannya sendiri. Tata kosmetik yang sempurna untuk bekas luka May di tangan yang di-zoom in­ saat May menyayat luka baru.

Detail yang dikerjakan dalam film ini sangati istimewa.

Menjelang akhir film, konflik yang terjadi ditengahi lagi oleh kehadiran Verdi Soleman yang kembali menampar Bapak dengan kata-katanya bahwa “Apapun yang sudah kejadian, ga bisa dibalikin lagi. Di luar kontrol kita, dan bukan salah kita.”

Apapun yang sudah kejadian, ga bisa dibalikin lagi. Di luar kontrol kita, dan bukan salah kita.

Quote yang menarik, bukan? Karena sering kali kita lupa bahwa kita selalu ingin mengubah masa lalu yang jelas tidak dapat kita lakukan.


Alur yang menarik menjelang akhir film adalah ketika May dengan mengenakan pakaian seragam SMP meminta role play diperkosa oleh Pesulap di atas meja. Pesulap semakin paham perannya untuk membantu May dalam menyembuhkan traumanya. Closing film ini ditutup dengan cukup menyenangkan ketika May ganti baju serta memeluk Bapak dan berkata, “bukan salah Bapak.”

-----m.a-----

Sabtu, 20 Juli 2019

JEBAKAN MANIS




Rasanya ini adalah keputusan besar yang salah. Ketika aku melamar pekerjaan baru sebagai asisten riset di laboratorium ini. Meskipun aku tahu bahwa Prof. Naryo adalah pribadi yang baik. Sebenarnya Prof. Naryo juga menyukaiku-kinerjaku, maksudnya-dan selalu berharap aku tinggal bekerja lebih lama bersamanya. Untuk banyak penelitian selanjutnya, begitu katanya padaku. Tapi aku sungguh sangat tidak nyaman dengan situasi yang aku alami hari demi hari sejak aku bekerja di sini. Entahlah… Aku pun galau karena aku belum menemukan pekerjaan pengganti yang tepat juga. Bagaimana nasib ibuku kalau aku harus berhenti bekerja dan tidak punya penghasilan. Ini sungguh menjadi mimpi buruk buatku beberapa malam terakhir.

Laboratorium ini adalah laboratorium yang cukup tersohor di kotaku. Begitu pula Prof. Naryo, adalah peneliti yang terkenal dan kredibel. Hasil penelitiannya akurat, valid, dapat diterima serta diaplikasikan secara mudah. Prof. Naryo mempunyai banyak klien yang ingin selalu bekerjasama dengannya namun keterbatasan staff lab membuatnya harus menolak klien-kliennya tersebut. Sebenarnya sebuah kebanggaan aku bisa bekerja dengan Prof. Naryo di laboratoriumnya, dan keluarganya juga sangat baik padaku. Apalagi anak kedua Prof. Naryo adalah temanku sekolah dulu di SMU. Jadi, wajar Prof. Naryo dan istrinya juga menganggap aku seperti anaknya mereka sendiri.

Sejak aku diterima bekerja di laboratorium ini aku langsung menjadi asisten peneliti, berpartner dengan Dewi. Dewi itu teman satu angkatan denganku namun dia bekerja di sini lebih dulu. Jadilah aku berpartner dengannya. Aku senang. Tugasku adalah mendampingi Prof. Naryo dan beberapa peneliti lain serta mencatat dan membuat laporan dari progress penelitian yang sedang berlangsung. Dewi juga mempunyai tugas yang sama persis denganku. Namun kami beda divisi. Aku divisi penelitian dengan objek penelitian hewan sementara Dewi di bagian tanaman.

----
Dewi:
Aku akrab dengan Mila sejak awal kuliah. Aku bersyukur sekali dia saat dia mau aku ajak bergabung bekerja pada prof. Naryo. Karena dengan dia aku bisa share  berbagai hal mulai dari pekerjaan, cara menulis laporan hingga gossip artis hingga cowok gebetan. Hehehe ….
Mila, anak yang cerdas, mempunyai kemampuan analisis yang bagus. Apalagi ketika dia harus menarik kesimpulan dan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti. Caranya membuat laporan yang sederhana namun mudah dibaca juga membuat dia disukai tim peneliti termasuk Prof. Naryo. Namun, itu menjadikan Mila juga agak tidak disenangi oleh beberapa tim peneliti. Mereka bilang Mila cari muka di depan Prof. Naryo. Padahal aku yakin, Mila tidak begitu orangnya.

----
Saat masa percobaan dulu, manajer HRD yang bernama bu Diana, sudah memberitahukan padaku bahwa ada satu ruangan yang aku tidak boleh mengakses. Dan itu akan membuat karirku runtuh kalau aku melanggar aturan itu. Ruangan yang dimaksud adalah sebuah gudang penyimpanan preparat dan objek penelitian. Ruangan itu tepat berada di belakang ruangan utama laboratorium tapi pintu masuknya berlawanan arah dengan ruang utama, sehingga harus melewati koridor sepanjang kira-kira 25 meter dari ruang utama. Sementara ruang kerjaku bersama Dewi berada di depan ruangan utama. Butuh waktu sekitar 3 menit untuk berjalan dari ruanganku ke ruang yang tidak boleh diakses tersebut. Bagiku ini bukan masalah karena dengan pekerjaan utama ini saja aku sudah cukup kelelahan.
------

Prof. Naryo:
Mila ini adalah salah satu karyawan yang lugu, polos dan baik. Sebagai anak yatim dia selalu berbakti pada ibunya. Mana mungkin aku menyakitinya. Bahkan aku selalu membayarkan gajiku melalui bagian finance sebelum tanggal di kontrak kerja. Selain hatinya lembut dia juga suka menolong, tapi aku sering agak terganggu dengan instingnya dalam menganalisis data dan keadaan….
-----

Aku sering pulang larut, karena proses penelitian tidak mengenal jam kerja saja. Para peneliti pendamping selain Prof. Naryo juga mengatur jadwal kerjanya secara bergiliran, sehingga mereka juga tetap membutuhkan bantuanku untuk mencatat progress penelitian. Ada lima peneliti pendamping yang selalu berada di sekitar Prof. Naryo. Salah satunya adalah dokter Rio. Dokter berkacamata minus ini telah lama menarik perhatianku karena dia satu-satunya peneliti pendamping yang sering menemani Prof. Naryo di malam hari. Kami sama-sama di divisi animal. Sangat sedikit bicara. Dia akan menulis di post-it pesan-pesan yang dia butuhkan untuk kubantu. Kalau kutaksir usianya mungkin hanya terpaut 3 tahun di atasku. Malam ini dokter Rio mengajakku lembur.
“Mila, kamu bisa lembur malam ini? Aku butuh bantuanmu,” tanya dokter Rio. Aku mengangguk, “Bisa Dok, tapi aku ndak bisa sampai pagi ya. Aku janji mengantar ibuku ke dokter besok pagi.” 

“Engga sampai pagi kok, Mil. Mungkin sekitar jam 12 sudah selesai dan kamu bisa pulang. Aku mau kamu nungguin lab dulu, aku mau ambil preparat malam ini sebelum jam 10. Bisa, kan?” tanya dokter Rio.

“Iya, Dok. Aku tungguin di sini sambil menyelesaikan laporan,” jawabku.
“Nice, Mil” katanya sambil berlalu.
Dari ekor mataku aku tau dokter Rio berjalan menuju gudang tempat menyimpan preparat. Kupikir tadinya dia akan pergi keluar untuk mengambil di rumah sakit. Ahh… biar saja dia lakukan pekerjaannya. Sementara aku pun juga masih harus menyelesaikan laporanku.

Hampir jam sepuluh malam Dokter Rio belum kembali ke lab. Sementara aku lapar. Aku belum makan sejak siang.
“Dok, kamu balik ke lab jam berapa? Aku lapar nih” tulisku di pesan WhatsApp.  

Tidak lama aku dengar ada bunyi HP dari arah lab, ahh… berarti dokter Rio tidak pergi membawa HP-nya. Perutku makin keroncongan. Kuhabiskan saja biscuit milik Dewi yang ada di ruanganku.

Sekitar jam 11 malam aku baru mendengar ada langkah kaki mendekat. Kuduga itu dokter Rio. Seperti terengah-engah dan tergesa dia masuk ke lab utama. Aku menyusul di belakangnya.

“Dok, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanyaku khawatir. Buru-buru aku ambil satu gelas air minum dalam kemasan lalu kusodorkan padanya.

Thanks Mil. Ya aku baik-baik kok” jawabnya sambil duduk di kursi yang ada di lab utama.

Ada yang janggal yaitu aku lihat ada bercak darah di jas putihnya. Seharusnya semua preparat di gudang itu dalam keadaan beku. Karena hewan yang masih hidup ada di ruang karantina di luar. Aku diam saja melihat kejanggalan itu. Takut dokter Rio tersinggung.


“Mila, kita pulang saja ya… kamu pulang gih, kita batal lembur. Aku sepertinya masuk angin. Badanku meriang”

“Hmm… Ok Dok, tapi sedikit lagi ya, aku mau beresin laporan dulu sedikit lagi.”
“Ya sudah… Aku jalan duluan ya,” pamitnya. “Baik…” sahutku sambil kembali ke ruanganku.

-----

Rio:
Benar apa yang disampaikan oleh prof. Naryo beberapa minggu lalu. Mila ini adalah salah satu staff yang harus diwaspadai. Dia sangat jeli melihat situasi. Aku sebaiknya berhati-hati dengannya. Seperti baru saja, sepertinya dia menaruh curiga padaku.
----

Tidak lama berselang dari aku masuk ruangan, ada langkah kaki keluar lab utama. Itu pasti dokter Rio berjalan keluar. Tapi kok seperti mengarah ke koridor ya. Ah… aku berusaha untuk menghiraukan itu karena laporanku masih harus aku kerjakan.  
‘Beep … beep …’ penanda jam 12 berbunyi dari arlojiku. Aku harus bergegas pulang sepertinya. Aku bersiap, mematikan PC di ruanganku dan merapikan meja, ketika aku mendengar ada orang yang berbicara. Suara siapa ya itu?
Aku keluar dari ruanganku dan terhembus hawa dingin. Suhu ruangan di lab utama itu harus terjaga sesuai standar. Kalau tidak akan membuat beberapa  penelitian gagal. Aku cek indikator suhu yang ada di sebelah pintu masuk lab utama. Dan semuanya normal. Suara orang ngobrol masih terdengar sayup-sayup di tengah malam ini. Aku jadi tertarik mencari sumber suara da nasal hawa dingin ini. Sambil kurapatkan jaketku aku perlahan mengendap menyusuri koridor.
Di benakku hanya tergambar wajah bu Diana, HRD, yang mengingatkan aku untuk tidak masuk ke ruangan terlarang itu. Tapi aku penasaran.

Semakin dekat dengan ruangan itu aku semakin pelankan langkah kakiku. Untung hari ini aku pakai sepatu sneaker yang solnya bukan karet, jadi tidak ada suara derit sol karet berpadu dengan lantai keramik.

Ketika aku semakin dekat dengan ruangan itu, ternyata ruangan itu terbuka pintunya. Ini melanggar standar bahwa siapapun yang masuk atau keluar ruangan lab itu harus menutup pintu. Ternyata benar obrolan itu berasal dari ruangan itu. Suara prof. Naryo dan dokter Rio.

Tidak jelas apa yang mereka bahas tapi aku mencium bau anyir dari ruangan itu. Aku mencoba mengintip ke dalam, hanya terlihat sepatu perempuan. Sepatu perempuan?! Bukankah hanya ada dua lelaki di salam sana?

Aku semakin penasaran. Tidak sadar aku terpeleset genangan air di dekat pintu. Ini bukan air ternyata. Ini darah!

Gubraaakkkk! Aku menubruk pintu yang telah terbuka sedikit karena terpeleset dan jaketku terkena darah. Sepersekian detik aku sempat melihat potongan tangan dan kaki manusia. Sebelum aku mendengar gertakan suara prof. Naryo, “Mila, apa yang kamu lakukan di situ!”

Aku belum menyadaari situasi, tetiba tengkukku seperti dihantam tongkat. Pandanganku gelap.


-------

Bagian 2

Diana:
Setiap ada calon pelamar yang melamar ke tempat ini dan perempuan, entah kenapa aku jadi was-was. Karena hampir semua berakhr dengan misterius. Apalagi bila anak gadis seperti Mila itu. Dari psiko-testnya menggambarkan anak ini cerdas dan rasa ingin tahunya tak dapat dibendung. Aku khawatir Mila menjadi yang berikutnya. Oleh karena itu aku sangat tegas kepadanya hanya agar dia tidak telalu mengumbar rasa ingin tahunya itu di lingkungan sini. Aku juga tidak tahu pasti untuk apa prof. Naryo selalu menerima karyawan yang perempuan dan lajang. Kartika, staff finance bagian pajak yang diterima bersama Mila juga anak yang cerdas. Kalem dan memiliki mata yang indah. Gadis penyuka warna hujau muda ini selalu terlihat ceria. Pulang pergi bekerja selalu diantar oleh pacarnya. Tapi perasaanku terhadap anak ini tidak enak juga. Tapi kan …. Kartika akan jarang berada di lab. Jadi aku rasa aku tidak perlu memperingatkannya setegas pada Mila. Tetapi akhir-akhir ini aku tahu Prof. Naryo mulai tidak suka dengan Kartika sejak dia kuduga tidak mau diajak untuk mengakali pajak . Sekali lagi semoga perasaan ku ini salah.
-------

Ibu Mila:
“Mila, kamu tidak lupa kan kalau kita ada janji dengan dokter hari ini jam 9? Kamu pasti banyak kerjaan ya? Ibu tunggu ya. Eh iya, ibu masak sayur lodeh kesukaanmu nih. Makan di rumah saja ya Mil” –pesan WhatsApp terkirim.
Tapi didapati hanya centang satu di layar. Ini sangat aneh. Mila tidak pernah mematikan telepon genggamnya. Ibu mulai menenangkan diri, mungkin Mila beneran sibuk.
-----

Aku mulai mengernyit mencoba membuka mata. Rasanya perih sekali mataku . Ahhh…. Kenapa gelap sekali. Ahhh …. Mataku ditutup rupanya. Bau-bauan tajam menyengat dimana-mana, hingga aku tidak bisa menengarai. Mulutku tersumpal. Aku tidak bisa berbicara bahkan mengeluarkan kata-kata karena ikatannya sangat kuat. Aku ini di mana ya?

Aku mencoba menggerakkan tanganku yang terikat sebelum aku menerima tendangan di perutku. Uuughhhh …. Nyeri sekali rasanya. Lapar dan nyeri bercampur menjadi satu. “Sudah kamu diam saja Mil.” Aku yakin sekali itu suara dokter Rio. Dengan aroma rokok yang keluar dan mulutnya bercampur bau bir. Aku mengerang kesakitan tapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Tapi aku tetap mencoba teriak sekeras mungkin.

Aku jadi tahu bahwa aku ini masih di lab. Mungkinkah ini di ruang penyimpanan preparat? Ahh …. Aku mulai ingat ketika aku jatuh terpeleset tidak lama tengkukku seperti dihantam benda keras. Mungkinkah dokter Rio yang melakukannya padaku. Mengapa dia ingin menyakitiku seperti itu? Apa salahku padanya? 

Aku terus mencoba berteriak dengan suaraku yang tercekat oleh sumpal kain ini. Aku mencoba membuat orang di luar tempat ini mendengar dan mungkin bisa menolongku. Aku terus mencoba berteriak dan tidak peduli saat berkali-kali pula sepatu dokter Rio melayang di paha, perut serta punggungku untuk menyuruhku diam. Aku makin berontak. Tapi aku tahu ada air mata yang keluar dari mataku karena rasa nyeri tendangannya. Teriakanku berubah menjadi tangisan karena menahan nyeri di punggung dan perutku. “Sudah Rio, hentikan!” aku dengar suara prof. Naryo memberi perintah. Aku masih menangis karena memang sangat sakit. Ada langkah kaki mendekatiku, entah siapa. Tapi tidak lama aku merasa orang itu membuka ikatan penutup mataku. Pelan-pelan aku melihat dokter Rio berdiri di depanku dengan jasnya semalam yang penuh bercak darah. Aku lihat ada sepatu perempuan warna cokelat dengan hak yang tidak terlalu tinggi, aku mengingat-ingat sepertinya tidak asing dengan sepatu itu, dan di sebelahnya aku melihat ada tas ransel berwarna hijau muda. Aku tahu itu milik siapa. Di lemari pendingin aku sempat melihat ada jajaran toples berisi jantung, paru-paru, potongan tangan dan kaki manusia. Sebelum aku menyadari semuanya, aku mendengar suara prof. Naryo  berkata, “Selamat begabung di lab ini Mila…hahahahhaha.”

Dan untuk kedua kalinya tengkukku dihantam benda keras, nyeri sekali. Sebelum semuanya kembali gelap.



-----m.a------












Senin, 01 Juli 2019

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)


Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan kontra atas rilisnya film ini. Saya sendiri sudah mendapatkan agitasi untuk tidak menonton film ini dengan resensi seseorang dari daring. Judulnya sudah bikin gemas karena menggunakan pilihan kata yang cukup ‘menggoda’. Hingga sepertinya kata pertama dari judul sudah membuat khalayak bereaksi bahkan sebelum nonton filmnya. Dan sengaja saya menuliskan resensi ini jauh setelah filmnya turun di jejaring XXI agar tidak membuat suasana makin panas. Padahal mungkin mas Garin Nugroho sebagai sutradara tetap adem ketika membuat film ini. Hehehe. Tercatat pemerintah daerah beberapa kota cukup besar di Indonesia melarang pemutaran film ini di kotanya dengan alasan tertentu. Hingga teman-teman saya di luar Jakarta mengirimkan emot menangis karenanya.




Durasi film ini adalah satu jam 47 menit. Cukup panjang untuk ukuran film Indonesia yang biasanya hanya sekitar 90 menit. Dengan alur maju mundur, penonton memang dibuat penasaran dengan jalannya cerita. Kisah Juno yang diambil berdasarkan kisah nyata seorang penari lengger ini memang ‘menuntut’ penonton berpikir sedikit lebih cerdas dengan mengikuti fragmen-fragmen adegan yang kadang berpindah cepat. Saya benar-benar mengosongkan asumsi bahwa film ini adalah film yang membahas tentang LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender/ Transeksual). Tidak mudah menonton sebuah karya seni dengan mengosongkan asumsi. Tapi itu ‘terpaksa’ saya lakukan untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih netral dan tujuan saya adalah untuk melihat budaya dan pelajaran gender yang diangkat dalam film tersebut.

Kisah Juno, seorang penari lengger dari pesisir selatan Jawa Tengah-Banyumas-yang kental dengan logat ngapaknya, merupakan kisah nyata. Sebuah sumber lain menuliskan bahwa tari Lengger-yang merupakan akronim dari eling ngger-berasal dari sebuah dusun bernama dusun Gianti, desa Kecis, kecamatan Selomerto, kabupaten Wonosobo, sekitar tahun 1910. Sumber lain menyebutkan  tarian ini memberikan nasihat dan pesan kepada setiap orang untuk dapat bersikap mengajak dan membela kebenaran dan menyingkirkan keburukan. Sepertinya Lengger lebih diaku berasal dari Banyumas karena pada praktiknya Lengger ini diiringi oleh gamelan calung yang berasal dari Banyumas. Tarian ini disebut juga tarian ronggeng atau tayub lelaki. Seperti pada umumnya, tarian ronggeng hamper selalu mengedepankan goyang pinggul pada setiap pertunjukkannya, tak terkecuali Lengger ini. Cukup menarik, bukan. Apalagi kalau ini ditarikan oleh lelaki.

Lho?!
Awalnya saya juga menganggap lengger atau ronggeng Banyumasan ini juga ditarikan oleh perempuan. Nyatanya tidak. Mereka hanya berdandan serupa perempuan. Mirip. Padahal istilah ronggeng itu sendiri adalah akronim dari ronging ketunggeng. Rong berarti gua atau lubang dan ketunggeng menggambarkan binatang yang suka menyengat. Sepertinya seru mengulik makna kata lengger ini sendiri. Karena Dinas Pariwisata dan Budaya Banyumas menuliskan bahwa lengger ini bermakna diarani leng jebule jenggeri (dikira babon/ ayam betina ternyata jengger atau ayam jantan). Namun, Sujiwo Tejo yang memerankan guru lengger mengajarkan pada Juno kecil bahwa jengger pada kata lengger ini bermakna kehormatan lelaki. Seperti pada ayam jago.

Film Kucumbu Tubuh Indahku dimulai dengan cerita masa kecil Juno. Yang suka mengintip para penari lengger berlatih menari. Lalu kemudian ‘tertangkap’ oleh Sujiwo Tejo-guru tari Lengger- dan ternyata Sujiwo Tejo mampu ‘membaca’ bakat dari Juno dengan gerak tubuhnya yang gemulai dalam menarikan sebuah gerakan di tari Lengger. Juno, yang terlahir sebagai laki-laki, ternyata memiliki skill dan perasaan yang halus, yang ditandai dengan gerakan yang gemulai dalam menari. Di adegan ini penonton dengan pemahaman gender yang sudah matang akan melihat ada sedikit ‘penyimpangan’ pada pesan adegan yang ditampilkan. Yaitu bahwa seorang laki-laki  Pada beberapa menit awal film ini, sudah muncul filosofi hidup yang dituturkan oleh si Guru Tari ini. Ini menurut saya sebuah ‘kode’ bahwa film ini akan sarat dengan filosofi Jawa tentang kehidupan.

Quote yang dapat saya tangkap pertama dalam film KTI (Kucumbu Tubuh Indahku) adalah kalau mau bisa belajar, kalau mau bagus latihan, kemudian dimantapkan (agar bisa menjadi keahlian). 
Quote ini diucapkan oleh Sujiwo Tejo saat merekrut Juno menjadi penari Lengger. Adegan ini tampak alamiah Jawa dengan dialog yang diselipi Bahasa Jawa. Namun sayang, Sujiwo Tejo mengalami sedikit terpeleset kata saat dialog di bagian ini. Seharusnya mengucapkan kata ‘tidak’ dalam Bahasa Jawa bukanlah ‘ga’ seperti yang diucapkan Sujiwo Tejo saat itu.

Adegan masa kanak-kanak Juno diperkuat dengan kesukaan Juno yaitu mengintip. Ciri khas anak usia 7-8 tahun yang memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap lingkungan sekitar. Cukup menghibur hingga muncul adegan dewasa yaitu ketika wanita yang diklaim milik si guru tari ternyata malah menggoda asisten guru tari untuk diajak berhubungan badan. Sebelum adegan ini berlangsung, jembatan menuju ke sini adalah dengan adanya adegan genit si wanita termasuk kerling mata dan body language. Sampai di sini, pesan bahwa konstruksi gender wanita di masyarakat tradisional pinggiran adalah demikian. Apabila ‘pesan’ ini salah dimaknai, maka penonton akan bisa menangkap pesan bahwa perempuan genit dan menggoda adalah hal yang wajar dan semestinya. Padahal sebenarnya tidak seperti itu adat budaya Jawa memberikan pelajaran gender kepada anak-anak mereka.

Adegan dewasa hanya berlangsung beberapa menit saja itupun tidak secara jelas-hanya menimbulkan asumsi bagi penonton, kemudian kedua orang yang selesai berasyik masyuk tersebut tertangkap oleh Sujiwo Tejo yang kemudian dibantai dengan sadis oleh Sujiwo Tejo. Percikan darah yang menyebar ke mana-mana menggambarkan dengan sangat detail bahwa si guru tari ini adalah karakter lelaki yang sangat maskulin dan dominan. Akan marah dan menuntut balas bila merasa kehormatannya direnggut. Juno menyaksikan ini semua dan menyimpan trauma tersendiri. Darah adalah pengalaman traumatis bagi Juno kecil yang kemudian nanti dibawanya hingga dewasa. Ketakutan Juno terhadap darah atau luka jelas bertentangan dengan pelajaran gender di masyarakat yang Kemudian alur loncat dengan warga desa yang mengusung keranda, lalu adegan Juno ditinggalkan bapaknya dengan menggunakan pick-up terbuka, entah pergi ke mana. Salah satu sumber daring menyebutkan kepergian bapaknya Juno adalah karena korban politik. Juno berhari-hari selalu sabar dan setia menanti bapaknya pulang dengan selalu menyiapkan makanan. Rupanya sejak usia belia, Juno telah terbiasa masak dan melakukan kegiatan domestic lainnya. Untuk adegan ini, saya membayangkan apakah kehidupan tradisional wilayah Banyumas untuk anak semuda Juno, saat setting waktu dibuat, memang sekeras itu?

Tidak lama muncullah sosok Bulik Juno-diperankan sangat apik oleh Endah Laras-yang menjemput Juno dari rumahnya yang sangat seadanya. Menggunakan motor bebek dengan perhiasan emas di jarinya menggambarkan sosok Bulik Juno ini adalah ‘orang sukses’ di ukuran kehidupan masyarakat dengan setting lokasi dan tempat tersebut. Tidak disebutkan ini adalah Bulik Juno dari pihak ibunya atau bapaknya. Juno tampak kaget ketika dijemput oleh Bulik. Dan sang Bulik memberikan pelajaran tentang kehidupan bahwa mati pisah pindah adalah biasa dalam kehidupan. Sungguh kata yang sederhana namun dalam maknanya.

Babak kehidupan baru Juno dimulai dengan Bulik Juno yang tampak lebih baik ketimbang di dusunnya sendiri. Juno sekolah lagi. Dan mempunyai kemampuan bisa mengetahui kapan ayam bisa bertelur hanya dengan menggunakan jarinya. Akhirnya Juno disukai oleh masyarakat, tetangga sekitar tempat tinggal buliknya itu. Namun hal ini justru menutup pintu rejeki buliknya dan timbullah amarah buliknya. Juno dipukuli. Jarinya dipukul hingga tidak lagi bisa memeriksa dubur ayam untuk mengetahui kapan ayam akan bertelur.




Child abuse.
Juga dialami Juno. Penggambaran pola asuh tradisional pada masyarakat pinggiran juga sangat kental dikisahkan dalam film ini. Apapun yang tidak sesuai dengan nkai dan norma leluhur dianggap ‘bahan’ untuk bisa dijadikan alasan abusing. Demikian juga Bulik Juno memperlakukan Juno. Di tempat baru dengan sekolah baru, Juno juga mengikuti ekstra kurikuler menari. Guru tarinya kali ini adalah seorang guru perempuan yang masih relatif muda. Saat selesai latihan menari ada adegan bahwa guru tarinya ini  menawarkan pada Juno untuk memegang payudaranya. Lalu adegan berubah dengan penggerebekan warga atas guru tari wanita itu. Entah apa yang terjadi. Mungkinkah praktik pedofilia ingin digambarkan Garin Nugroho melalui asumsi penonton?

Yang menarik dalam film ini adalah perpindahan setting waktu dan tempat kadang diselingi oleh monolog Juno yang penuh filosofi dalam bahasa Jawa ngapak Banyumasan. Sambal bermonolog, Juno ini melakukan olah tubuh seperti menari dan bermimik muka serius.
Beberapa tutur monolog Juno ini adalah tubuh itu hasrat, hasrat menggerakkan tubuh dan tidak ada batasan untuk hasrat. Sementara tubuh itu ada batasan seperti nlai dan norma mungkin maksudnya. Pengalaman tubuh bersama hasrat disimpan di tubuh sendiri. Bisa dibuat belajar. Setidaknya belajar buat diri sendiri.

Film ini makin membuat penonton ketika dalam menit ke-48 belum ada adegan atau dialog yang menggambarkan konflik puncak. Konflik kecil-kecil ‘diselesaikan’ dengan manis dengan dialog yang kadang mengundang gelak tawa penonton.



Juno Memasuki Usia Dewasa Muda
Setelah monolog Juno sambal berolah gerak tubuh, adegan berikutnya adalah loncat Juno dewasa muda. Agak bingung memang kalau menonton film ini tanpa konsentrasi tinggi, karena wajah pemeran Juno dewasa muda jauh berbeda dengan paras Juno anak-anak. Dan tidak ada dialog yang menggambarkan bahwa peran tersebut adalah si Juno.

Juno dewasa muda bekerja sebagai asisten tukang jahit baju. Penjahit ini juga bisa disebut sebagai guru kehidupan bagi Juno. Tidak juga diceritakan bagaimana perpisahan Juno dengan Bulik.
Mengapa saya menyebutkan bahwa penjahit itu adalah guru kehidupan bagi Juno, karena penjahit itu juga mengajarkan filosofi kehidupan yang dijadikan bekal bagi Juno untuk mengarungi kehidupan berikutnya.

Sang Penjahit itu mengajarkan Juno filosofi dalam mengukur badan untuk ukuran baju yaitu percaya dengan mata dan sambungkan dengan hati. Saya terdiam dalam cekat ketika bagian ini. Karena itu benar adanya. Segala sesuatu yang bersifat insting harus melalui jalur seperti itu. Bukan mengedepankan hati baru kemudian logika.

Sejak periode Juno dewasa ini kisah romance baru dimulai. Penjahit senior mempunyai klien langganan seorang petinju amatir. Di sana Juno mulai getaran perasaan emosional terhadap si petinju yang diperankan oleh Randy Pangalila. Sementara si petinju digambarkan sebagai seorang yang straight sehingga respon perasaan Juno terhadap petinju tidak terlalu mendapatkan tanggapan balik.  Juno dan Petinju semakin dekat. Juno sering menemani Petinju berlatih fisik untuk mengumpulkan uang demi menikahi tunangannya.



Dari beberapa adegan kedekatan Juno dengan Petinju, penonton secara lebih mendalam dapat belajar bahwa cinta itu adalah kata kerja searah. Mencintai dapat dilakukan satu pihak tanpa harus menuntut balik. Dan dalam hal mencintai, cinta itu sendiri tidak mengenal gender ternyata. Paradoks. Dan (sedikit) kontroversial, bukan. :) 

Setelah Juno beranjak dewasa, adegan monolog dengan bahasa dan dialek Banyumasan makin sering muncul dan memberikan filosofi kehidupan tentang bagaimana mencintai dan menerima diri dan tubuh sendiri. Seperti banyak kampanye yang dilakukan warganet. Badanmu akan membawamu kemana-mana. Trauma badan itu ada. Semua trauma bagian dari hidup. Cintai badanmu, itu yang akan membawa (mengarahkan) hidupmu.  

Konsep penerimaan terhadap diri sendiri (yang merupakan perpaduan antara jiwa dan raga) hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara jiwa telah dewasa.
Konsep Juno terhadap tubuhnya sendiri serta menerima ‘garis takdir’ yaitu ketertarikan terhadap jenis kelamin sejenis hanya muncul di bagian menuju akhir film tersebut. Dalam kondisi tersebut tetap digambarkan Juno memiliki konflik internal dalam perannya sebagai bottom dalam relasi yang dia bangun.

Kisah dan alur maju mundur yang disajikan Garis Nugroho secara manis disambungkan dengan kisah anak buah Bupati yang disuruh untuk mencari ‘tokoh’ yang dipercaya membawa keberuntungan sang Bupati. Kedua anak buah Bupati itu menyajikan scene yang kocak. Yaitu dengan mengukur tanah dengan menggunakan galah menuju arah yang disarankan seorang cenayang.




Tubuhku adalah alam. Sayang kalau tidak bisa mengurusnya, akan jadi bencana. Di dalam tubuh juga jadi bencana. Tubuh adalah medan perang. Perang Kurusetra. Di dalam tubuhku ada perang.  
Saat monolog ini diucapkan oleh Juno dewasa, saya benar-benar langsung memahami bahwa pesan yang disampaikan sungguh tak perlu diperdebatkan lagi. Bukankah masing-masing kita sering mengalami peperangan seperti yang disampaikan oleh Juno dalam monolognya itu. Siapa yang menang antara peperangan internal itu? Jawabnya ada pada masing-masing kita tentu saja. :) 

Setelah kedua anak buah Bupati (diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana-yang juga memerankan Pak Suripto di Dilan, Pak Bakri di Laskar Pelangi) menemukan bahwa orang yang mamu menyembuhkan Bupati dari sakitnya adalah si Juno, konflik antara Bupati dan Juno pun dimulai. Hubungan Bupati sendiri dengan istrinya menunjukkan ada pembelajaran tentang gender, yaitu ketika istri bupati digambarkan lebih dominan. Namun, menunjukkan sebuah ‘clue’ yang tidak beres dengan asistennya-yang dalam hubungannya dengan istri Bupati berberan sebagai buci. Rupanya pasangan itu menutupi bahwa sebenarnya Bupati tertarik dengan Juno dan istri bupati memiliki affair dengan asisten perempuannya :) 

Pada bagian ini agak mudah ditebak puzzle filmnya.

Bupati sungguh tertarik pada Juno karena pesona tubuh Juno ‘yang cantik’ dan kelembutan sikapnya. Konflik ini ditambah dengan istri Bupati yang menuntut bahwa jangan sampai masyarakat mengetahui ‘penyimpangan’ tersebut, apalagi mereka berada di kabupaten kecil di Jawa Tengah. Diperuncing dengan hadirnya warok yang melakukan klaim atas Juno sebagai gemblak-nya  dan diumumkan. Siapa yang berani menantang si Warok, jelaslah nyawa taruhannya. Kesan ini diperkuat dengan adegan reog di kebun jagung yang menyebabkan Juno teringat kembali dengan trauma darahnya.



Monolog Juno dewasa tentang tubuh adalah sarana peperangan digambarkan dengan sangat baik dalam konflik yang diciptakan pada bagian akhir ini.
Sungguh, menurut saya, ini adalah film yang mengajarkan konsep Love Yourself secara utuh dengan pelbagai konflik yang mewarnai. Ditutup dengan monolog dari Juno dewasa yang menuturkan tubuh yang sepi akan terus kalah.
Penonton diminta memahami makna dari kalimat itu sesuai dengan persepsi kedewasaannya masing-masing. Kisah Juno ini adalah kisah nyata penari yang bernama Rianto.


MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...