Jumat, 10 Mei 2019

Yorick: Sebuah Ambiguitas





Membaca Yorick, novel yang ditulis oleh Kirana Kejora berdasarkan kisah nyata itu, membuat saya harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa Yorick ini sebenarnya kisah non-fiksi. Kisahnya memang begitu dramatis hingga membuat saya bertanya, 'ini beneran ada kisahnya seperti ini?'

Nyatanya memang ada. Kirana menuliskan bahwa Yorick bak kuda terbang. Binatang fantasi namun secara nyata fisiknya kita mendapatinya seperti kuda. Binatang setia yang rajin bekerja. 

Andai saya adalah ahli bahasa dan mampu merekomendasikan kata yorick ke dalam KBBI, mungkin padanan kata ini adalah tidak lelah berusaha. Sehingga bila dipakai dalam kalimat misalnya: meyorick artinya adalah berusaha tanpa kenal lelah. Terdengar berlebihan memang, namun demikian adanya. Menurut saya.



Bagian awal novel ini, Kirana menggambarkan suasana Saint Petersburg dengan sangat detail dan bagi yang belum ke sana akan bisa merasakan suasananya tampak di depan mata. Bagi sebagian orang ini tampak membosankan apalagi bila pembaca belum membaca peta Saint Petersburg itu sendiri. Kirana melakukan hentakan dengan kisah Yorick dewasa yang galau dan tampak kosong meskipun secara nyata hidup penuh kelimpahan. Galau dan kosong karena ekspektasinya menjumpai dan berinteraksi dengan Nevia ditolak mentah-mentah. Hal ini semestinya tidak perlu terjadi karena Yorick digambarkan sebagai sosok laki-laki idaman perempuan lajang. Terdapat pemandangan di Saint Petersburg yang digambarkan dengan apik oleh Kirana hingga mampu menarik kilas kenangan Yorick dengan Mak Encum seakan diputar lagi dalam memorinya. 


Sampai bagian ini alur menjadi berubah.


Cerita bergeser ke Panjalu Ciamis yang menurut saya lebih mudah dibayangkan oleh pembaca yang tahu daerah Jawa. Kisah Yorick kecil inilah yang tadi saya maksudkan seakan-akan harus selalu menyadarkan diri sendiri bahwa ini adalah non-fiksi. 
Pelajaran dan filosofi hidup dari Mak Encum kepada Yorick dituliskan Kirana dengan gaya yang sangat mudah dipahami namun sarat makna. Penuturan dan gaya bahasa Kirana pada bagian ini sangat membumi. Cerita tentang perundungan ala kampung yang masih saja terjadi hingga kini diselipkan dengan sangat halus disertai respon emosi khas anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan. Pada kisah Yorick kanak-kanak diselipkan kembali kisah Yorick dewasa yang membuat alur maju dan mundur terasa makin kental. Gaya penulisan Kirana pada bagian ini membuat pembaca penasaran ingin mengetahui ‘penderitaan’ apa lagi yang dialami Yorick. Ini menarik sekali. Pembaca mulai diseret emosinya dengan bagian kisah Mak Encum yang mulai sakit dan hilang dari rumah pada hari Jumat. 



Kisah infaq Jumat 60 ribu menambahkan kesan dramatis berikut sandal jepit untuk nenek. Bagian ini kental sekali dengan fiksi bahwa ‘mana mungkin anak sekecil itu bisa sepengertian itu pada neneknya yang mengasuh sejak bayi’. Agak janggal memang. Mobil-mobilan plastik dan layangan yang terasa ‘wajar’ bagi kita diceritakan menjadi barang yang sangat mewah dalam bagian itu. Pembaca dibawa ke perenungan dalam tentang makna bersyukur pada bagian ini.

Seperti membaca buku spiritual dalam kemasan novel. 





Kisah Yorick melaju dengan alur maju saat Yorick harus menumpang bersama sang paman di Bandung. Sayang tidak diceritakan dengan detail pada bagian ini tentang kota Bandung di sudut kampung mana. Kirana sepertinya lolos pada bagian ini. Bayangan kehidupan ‘susah’ sang paman menjadi kurang kuat karena setting lokasi yang minim. Labeling, seperti yang masih banyak terjadi di masyarakat kita, menjadi pemanis cerita pada bagian Yorick dianggap membangkang dan pergi dari rumah tempatnya ditampung. Sayangnya lagi, Kirana juga tidak menuliskan dengan tegas apakah yang dilakukan Yorick itu minggat atau bagaimana. Kirana sebaiknya menambahkan keterangan perasaan atau emosi Yorick pada bagian ini. Meskipun Kirana menggambarkan Yorick ‘cukup’ berteman dengan Jaung, ayam pemberian Mak Encum yang dianggapnya sahabat dan telah lama dipelihara. Bagian ini menggambarkan betapa kuatnya Yorick menghargai persahabatan. Yorick dan Jaung adalah clue awal atas setiap persahabatan yang kemudian diceritakan pada bagian selanjutnya. 



Kembalinya Yorick ke Panjalu dan mendapati bahwa rumahnya tempat ia tinggal bersama Mak Encum telah rata dengan tanah menggambarkan bahwa Yorick memiliki alur pikir sederhana nan kuat. Tekadnya menggambarkan kemauan yang keras. Pola pikir sederhana ala anak-anak disertai kondisi emosi yang kuat. Deskripsi perasaan Yorick dituliskan sangat gamblang oleh Kirana pada bab-bab ini.

Bab selanjutnya tentang perjumpaan Yorick dengan orang-orang yang membantunya. Pada bagian ini Kirana membawa pembaca untuk memahami bahwa setiap orang adalah guru bagi seorang lainnya, bila orang tersebut mau belajar. Banyak pelajaran hidup yang diberikan oleh orang-orang yang dijumpai oleh Yorick yang bermakna dalam pembentukan karakter berikutnya. Perjalanan Yorick kembali ke Bandung menjadi makin drama ketika dia digambarkan benar-benar menjadi anak jalanan dan gelandangan tanpa tempat tinggal. Bagi pembelajar, cara Kirana menuliskan bagian ini benar-benar membawa pada kontemplasi pembaca tentang kehidupan yang bahkan ‘tidak tersentuh’ sebelumnya. Kirana menggambarkan situasi dan emosi Yorick dengan sangat jelas pada bagian ini. Menurut saya pribadi, ini menjadi perenungan mendalam tentang makna sendiri dan hanya mengandalkan Tuhan melalui harapan dan doa. 


Perjumpaan Yorick remaja dengan berbagai karakter orang, seperti Gilang misalnya, mulai menjadi titik balik situasi emosi. Sikap lingkungan kepada Yorick dan gaya bahasa Kirana dalam menuliskan kondisi emosi Yorick juga menjadi dua hal yang berlawanan. Kontradiktif yang manis. Satu sisi pembaca dibuat kesal oleh drama penderitaan yang dialami Yorick, yang seakan-akan tidak mulai berkurang dengan perjalanan waktu. Sisi yang lain pembaca juga dibuat harus dapat memaknai istilah bersyukur lebih dalam dan semakin dalam lagi. Mungkin ini adalah gaya khas Kirana dalam mengaduk emosi pembaca.

Pada bagian Yorick remaja dan menjelang dewasa ada beberapa bagian yang janggal seperti topik yang tetiba muncul, misalnya tetiba Yorick harus menjual HP untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Janggalnya adalah tidak diceritakan bagaimana perjuangan Yorick untuk dapat memiliki HP tersebut lebih detail. Menurut saya ini perlu dituliskan mengingat pembaca telah jatuh hati pada kisah Yorick kecil dan remaja yang penuh derita. Juga bagian Yorick sakit dan harus rawat inap di rumah sakit. Tidak dituliskan dengan detail apa diagnosis Yorick saat itu. Mungkin Yorick sebagai nara sumber juga terlewat untuk  menyampaikan hal ini kepada Kirana. 


Pembaca mungkin sangat berharap bahwa bagian kepergian nenek adalah klimaks dari kisah Yorick seperti yang digambarkan di cover dan promo novel serta filmnya. Ternyata bagian ini hanya dituliskan sebanyak empat halaman oleh Kirana. Proses detailnya pergumulan batin Yorick dan usaha pencariannya terhadap keberadaan Mak encum tentu akan menjadi klimaks yang lebih menarik bila ditambahkan.



Filosofi kehidupan yang sangat sarat di bagian awal terasa makin susut saat dikisahkan bagaimana Yorick membangun kerajaan bisnisnya. Ada pembahasan satu kalimat tentang kehidupan Yorick dari dan di dunia maya, yaitu alter ego, yang Kirana tidak menuliskan bagaimana hal itu dijalani oleh Yorick. Bagian ini dapat dihilangkan karena hanya satu baris kalimat. Menurut saya penghilangan bagian ini tidak akan menggangu jalannya cerita. 

Bagian akhir novel ini tentang kerajaan bisnis Yorick dituliskan datar saja tanpa detail emosi Yorick yang kuat dikesankan seperti di bagian awal dan tengah. Meskipun novel ditutup tidak dengan happy ending, pesan moral dan nilai pada bagian akhir masih kental dengan kenangan Yorick terhadap neneknya. Ini membungkus kembali kisah grandparenthood yang diusung pada novel ini. Quote Yorick tentang cinta, relationship dan penikahan atau dapat berbentuk slogan dana tau sikap, saya yakin, akan membuat ’wrapping’ bak kotak kado dengan pita pemanis. Pembaca sebaiknya disuguhi ini pada bagian akhir. 

Secara umum, beberapa didapati istilah yang belum sesuai dengan KBBI dan kata baku bahasa Indonesia. Kesalahan yang dilazimkan akan sangat disayangkan bila dilakukan oleh penulis sekaliber Kirana Kejora. Penggunaan diksi yang belum lazim sehari-hari akan memperkaya khazanah perbendaharaan bahasa Indonesia bagi pembaca. Ini memang 'tugas' penulis Indonesia secara umum. Kirana juga menuliskan cuplikan dialog dengan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa Timur Suraboyoan dan bahasa Sunda, serta bahasa Rusia dan Inggris. Sayangnya tidak disertakan artinya sebagai footnote tiap halaman yang diselipkan bahasa asing tersebut. Penggunaan bahasa asing (selain bahasa Indonesia) dalam dialog akan membuat buku terasa down to earth berdasarkan setting cerita. Tata letak dan pemilihan halaman sampul serta jenis kertas sangat menarik. Tebal tapi ringan dijinjing, ciri khas buku kekinian. Pembaca secara umum pasti menyenangi pilihan ini.


Selamat mengalami roller coaster dengan kisah Yorick ini. Menyelesaikan novel Yorick akan membuat pembaca tidak sabar menanti penayangan filmnya. Mari meyorick dengan penuh keyakinan!


Statistik buku
Judul                            : Yorick
Penulis                         : Kirana Kejora
Penyunting                  : Key Almira
Jumlah halaman         : 346 halaman
Penerbit                      : PT. Nevsky Prospekt Indonesia


1 komentar:

  1. Keren ya, saya juga suka dengan novel ini. Banyak pelajaran hidupnya.

    BalasHapus

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...