Rabu, 08 Mei 2019

Toleransi Beragama dalam Kemasan Dilema antara Cinta dan Komitmen


Film Ave Maryam yang diperankan secara apik oleh Maudy Koesnadi dan Chico Jerikho dilaunching sekitar peringatan Paskah yang jatuh di tanggal 19 April tahun ini. Secara resmi kita dapat menikmati film ini sejak tanggal 11 April 2019. Film berdurasi 73 menit ini mengambil setting di kota Semarang dengan Pemandangan di area Gereja Blenduk, Semarang Utara.

Kekuatan film ini ada pada kemampuan akting semua pemerannya. Mimik muka dan bahasa tubuh dalam setiap scene mampu menggantikan dialog antara pemain. Penonton akan mampu menelaah setiap adegan dengan akting minim dialog yang dijadikan oleh seluruh pemeran film secara sederhana. Tentu saja ini tidak mudah untuk dilakukan. Bahkan beberapa penonton sampai mempertanyakan apa agama Maudy Koesnadi. Hal ini berarti akting Maudy mampu membungkus pesan seperti itulah kehidupan seorang suster Katolik yang bertugas merawat suster seniornya.




Pesan toleransi sangat kuat pada adegan gadis kecil pengantar susu,  diperankan oleh Nathania Angela Widjaja, gadis kecil berjilbab yang selalu mengantar susu dan kerap menjadi kurir antara suster Maryam (Maudy Koesnadi) dan Romo Yosef (Chico Jericho). Saya sendiri merasa agak takjub menyaksikan adegan adanya anak kecil berjilbab yang masuk ke kesusteran juga ke gereja untuk bertemu Romo dan mengantar makanan.

Ertanto Robby Soediskam sebagai sutradara dan penulis naskah mengemas setiap adegan minim dialog ini dengan baik dan menggantikan dialog dengan sajian adegan yang membuat penonton seperti tidak rela untuk sekadar ke toilet. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya berpikir akan banyak adegan yang menggunakan ayat Alkitab pada film tersebut atau juga membahas Ketuhanan, nyatanya fokus cerita film itu sendiri adalah seputar manusia. Dengan rasa dan hasrat alamiahnya, yaitu ketertarikan antar lawan jenis.

Berpuluh menit pertama film terasa datar, tidak ada konflik. Hingga muncul Romo Yosef yang piawai bermain alat musik dan bertugas melatih tim paduan suara gereja. Rupanya hal ini pula yang membuat Suster Maryam tertarik pada awalnya. Penonton akan dibuat deg-degan dengan kelanjutan dan ending dari film ini, yaitu bahwa Suster Maryam dan Romo Yosef memilih keluar dari komitmen demi rasa yang timbul di antara mereka.

Menurut saya, ada adegan yang cukup janggal yaitu ketika Maryam dan Yosef ke pantai. Saya agak mikir keras, di mana pantai tersebut karena Semarang berada di pesisir utara pulau Jawa, yang rerata tidak berantai landai.


Judul filmnya memang tampak kuat mengandung gambaran Kristiani layaknya kisah dan hymne Ave Maria. Bahkan saya pun sudah underestimate terlebih dahulu dengan judulnya dan membaca sinopsis singkat. Saya membayangkan film ini memiliki plot dan jalan cerita seperti novel Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Vietra Aku Menangis, nyatanya sama sekali tidak. Film yang mengusung setting lokal Indonesia dan bentuk toleransi beragama di Indonesia ini memang terkesan berat dan dewasa, namun tetap dapat dinikmati oleh penonton yang berusia belasan tahun. Tidak terdapat adegan dewasa di dalamnya meskipun jalan ceritanya kuat mengusung pertentangan batin dan dorongan hasrat manusiawi yang telah mengikatkan diri untuk hidup selibat. Film ini akan memperkaya khazanah pemikiran dan cara pandang kita, bila saat memutuskan menontonnya kita telah 'kosongkan' kotak asumsi dan doktrin agama.

Selamat menikmati film dari anak negeri sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...