Kamis, 16 Mei 2019

Sebaris Rasa




Riana sudah ingin beranjak pergi. Alasannya dia tidak mau terlambat sampai di bandara sore ini. Jakarta macet, katanya. Aku tahu itu hanya alasannya belaka.

Sementara aku masih ingin berlama-lama menikmati perih ini. Bagaimana tidak perih, Riana, gadis yang lebih dari satu dekade dekat denganku ini, tetiba mengajak bertemu dan menyodorkan undangan.

...... 

Beberapa hari lalu dia hanya mengirim pesan melalui WhatsApp.

"Arya, aku hanya singgah sebentar di Jakarta. Kita ketemu yaa... Please. Di kafe biasa kita nongkrong. Kamis, jam 3 ya. Don't be late. Aku mau langsung flight ke Surabaya Kamis malam."
Tulisnya di pesan WhatsApp.

Tanpa bertanya lebih aku hanya jawab, "ya."
Tanpa dia harus tahu aku langsung menggeser semua rencana meeting dengan rekanan untuk tender penting itu. Riana tidak perlu tahu itu. Riana hanya cukup tahu bahwa aku akan selalu ada buatnya. Tami, sekretarisku, cukup kaget dan kebingungan saat kuminta dia mengganti semua jadwal meeting.

.....

Aku datang tadi setengah jam sebelum Diana datang. Sengaja. Aku belum makan siang. Jadi kupikir lebih baik menunggu Riana sambil makan. Selebihnya aku telah merindukan dia. Cerita-ceritanya yang menggebu-gebu. Aku merindukan matanya yang bulat bergerak-gerak lincah saat bercerita. Dengan pipinya yang bulat. Memandanginya bercerita bisa membuat semangatku bangkit. Selalu begitu.
Aku mulai mengenang pertemuan pertama dengan Riana. Juga di kafe ini. Dulu Riana bekerja di kantor rekananku. Dari jalur itu kami bisa berkenalan.

Tepat saat suapan terakhirku, Riana dengan ransel yang cukup besar muncul di pintu kafe sambil nyengir. Dengan gayanya yang selalu aku suka. Aku melambaikan tangan padanya, isyarat agar dia datang ke mejaku.

"Sorry ya Ar... Aku telat dateng," sapanya buru-buru. 

Aku hanya melirik tipis melihat arloji di pergelangan tangan kiriku. 15 menit dari waktu yang dia pinta.

"Belum telat kok, kalau sebungkus rokokku habis baru itu dibilang telat," kataku sambil menjabat tangannya. 

"Apa kabar kamu bocahhhhh..."
Aku acak rambutnya. Pura-pura kesal. Padahal aku rindu. Ingin memeluknya.

"He... Hehehe...," Riana berusaha menghindar tapi telat sepersekian detik. Dia terkekeh. Tawa yang selalu kurindu.

"Aku sibuk, Ar...."
Riana duduk di kursi depanku. Sambil mengambil kotak rokokku. Mengambilnya satu batang. Dan saat dia akan memantik korek, aku lebih cepat menyodorkan Zippo-ku langsung di depan mulutnya.

"Hei, sejak kapan kamu merokok?" tanyaku datar.
"Sejak aku jauh dari kamu, Ar, hahaha," tertawa lagi.



Ketika semua orang memanggilku Arya, hanya dia yang memanggilku 'Ar'. Riana memang unik.

"Kamu sehat kan, Ar?" tanyanya, wajahnya mulai tampak serius.
"Hmm... Kalau engga sehat, kita ketemu di rumah sakit dong," sahutku.

Kami terkekeh bersama. 

Sore itu terasa indah bagiku. Aku merasakan kembang layu di kebun hatiku mulai bersemi dengan siraman kebahagiaan ini. 

Aku menawarkan makanan tapi Riana hanya memilih es coklat. Kesukaannya.

"Jam berapa flight-mu?" tanyaku serius.
"Jam 9 sih, kenapa? Mau nganter ke airport?"
"Boleh aja sih, tapi liat dulu ntar yaa... Sejak kapan kamu jadi manja gini?" 

Aku mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan. Mengisap pertama dalam-dalam.

Riana nyengir lagi. Itu isyarat jawaban sebenarnya, yang kemudian terlambat sekian menit aku sadari.

Jarum pendek jam dinding di kafe sudah menunjuk angka lima. Riana melihat layar handphone yang dia taruh di meja.
Wajahnya tampak berubah. Aku tidak memahami apa yang sedang dia pikirkan.

"Kamu mikir apa, Riana?" tanyaku hati-hati. 

"Ah engga mikir apa-apa kok, hanya menghitung butuh berapa menit aku ke airport... Takut kejebak macet, Ar..."
Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. 

Tetiba dia membuka tas ranselnya yang tampak lebih lebar dari badannya yang mungil itu. Mengeluarkan kertas berwarna krem dibungkus plastik. Seperti undangan.
Meletakkannya di meja dan menyodorkan ke hadapanku. 

Aku merasakan ada pias di wajahku. Yang aku sembunyikan dengan baik. Meski rasanya aku gagal menyembunyikan.

Dengan tenang aku mengambil undangan itu. Tertulis di sana: Arya Hermawan Wiraatmadja. Lengkap dengan gelar dan nama perusahaanku serta posisiku di sana. Aku tersenyum tipis, masih bermaksud menyembunyikan pias di wajahku. Membuka plastiknya. Perlahan. Dan kusengaja. Aku masih melawan pikiranku sendiri. Semoga bukan namanya di sana.

Aku membaca namanya dan nama lelaki. Kemudian aku fokus di tanggal dan lokasi. Rasanya nyawaku lepas saat itu. 

"Ar, kamu harus datang ya... Acaranya sudah aku buat berdasarkan info dari mba Tami. Aku pilih di tanggal kamu engga sibuk meeting," Riana mencoba menjelaskan macam-macam tapi di telingaku rasanya hanya berdenging saja. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan celotehnya lagi.

Mungkin aku gagal menyembunyikan pias di wajahku dan Riana tahu itu. 

"Ar, maafkan aku, baru ngasih tahu kamu sekarang..." dengan suara yang sangat halus hampir tak terdengar. Atau aku masih sibuk dengan denging di telingaku sendiri.

"Ya, aku akan datang, Riana. No worries."
Sambil senyum. Tapi kecut. Aku bisa merasakannya. 

"Kamu mau kado apa dari aku?" Aku berusaha mencairkan suasana yang beberapa detik terasa beku tadi.

"Beliin aku apartemen di Bali," katanya terkekeh. Aku langsung menyahut, "Tunjuk lokasinya, lantai berapa yang kamu mau. Biar nanti pas ke Surabaya aku bisa ngasih kuncinya ke kamu langsung."

Riana kaget. Dan respon itu sudah aku duga. Dia bahkan tidak perlu tahu, aku baru saja membelikannya rumah di Jakarta. Rencananya aku mau berikan buat nanti kalau kami menikah. Ah... Terlambat semuanya. Aku ingin memaki diriku yang begitu takut menyampaikan perasaanku padanya. Aku memang pecundang rasa.

"Aku becanda, Ar. Engga usah repot-repot, kamu dateng aja itu bagiku sudah melengkapi kebahagiaanku," tukasnya. Tapi aku sudah bertekad menghadiahinya apa yang dia inginkan.

Aku menyalakan rokok lagi. Aku berusaha mengurangi gundah hatiku dengan rokok ini. Entah batang yang ke berapa sore ini. Mengisapnya dalam-dalam lagi. Dalam hati aku masih merutuk.

.....

"Aku harus ke airport sekarang, takut kejebak macet. Kamu jadi antar aku apa engga, Ar?" Riana bertanya hati-hati. Kurasa dia mengerti perasaanku saat itu. Perih.

Aku sebenarnya masih ingin berlama-lama menikmati saat ini. Mungkin ini terakhir aku bisa bercengkrama dengan wajahnya yang bulat menggemaskan itu.

"Tunggu bentar, aku habiskan rokokku ya..."
Riana mengangguk. Suasana di antara menjadi sangat kaku. Setidaknya itu yang kurasakan.
Separuh batang rokok telah habis. Handphone di saku celanaku bergetar. Aku tahu ada telepon.

Aku ambil dari saku kanan celana, kulihat layarnya tertulis nama: Anita, lalu aku geser auto-message untuk menghentikan getarannya.

"Can't talk right now, I'm busy. I'll call you later." Anita adalah gadis yang dijodohkan denganku oleh papanya. Papanya rekan kerjaku di proyek yang lalu.

Ya, aku sibuk merapikan hatiku yang berantakan sore ini. 

Riana masih menungguku. Berharap aku mengantarkannya ke bandara. Aku tidak yakin akan sanggup. 

.....

"Riana, maaf aku harus ketemu klien, kamu naik taksi ya. I'll pay your taxi," aku ingin segera pergi dari hadapan gadis yang membuatku jatuh cinta satu dekade ini. Aku berbohong padanya. 

Riana nyengir. Tapi dia mengangguk. Sambil mengangkat jempolnya, "Ok, Pak Arya!"

Aku tahu dia masih berusaha mencairkan kekakuan mendadak kami. 

Aku membayar seluruh tagihan makanan dan keluar untuk mencarikan taksi buat Riana. Kuberikan selembar voucher. "Nih, nanti tulis aja nominalnya, bapaknya dikasih tips tambahan di voucher ya."

Riana tertawa. Lalu memelukku kuat sekali.
Ini seperti pelukan terakhir bagiku.
"Arya, terima kasih banyak buat selalu hadir di hari-hariku."

Aku mengangguk. Berusaha menahan mata yang terasa sedikit berair.

Sebuah taksi mendekat. Riana masuk taksi dan menurunkan kaca jendela. "Kamu hati-hati ya," pesanku. 

Dia nyengir lagi. Sambil teriak dari dalam, "aku tunggu di Surabaya!"
Aku melambaikan tanganku. 

Taksi pergi membawa Riana, membelah lalu lintas Jakarta, sore itu. 

Aku masih merasakan perih. Melangkah masuk ke kafe lagi. Aku belum sanggup beranjak kemana-mana. Aku merasa begitu bodoh, tidak berani mengungkapkan perasaanku pada Riana. 

.....

Epilog:
Di taksi, Riana menyeka air matanya dengan tissue. Riana menangis. Dia benar-benar merasa bertepuk sebelah tangan pada Arya. Dodi Setianto, nama dalam undangan itu, baru dua bulan berkenalan dan memberinya perhatian dan melamarnya sebulan lalu. Diterimanya lamaran itu karena merasa cintanya pada Arya tidak bersambut.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...