Kamis, 16 Mei 2019

Sebaris Rasa




Riana sudah ingin beranjak pergi. Alasannya dia tidak mau terlambat sampai di bandara sore ini. Jakarta macet, katanya. Aku tahu itu hanya alasannya belaka.

Sementara aku masih ingin berlama-lama menikmati perih ini. Bagaimana tidak perih, Riana, gadis yang lebih dari satu dekade dekat denganku ini, tetiba mengajak bertemu dan menyodorkan undangan.

...... 

Beberapa hari lalu dia hanya mengirim pesan melalui WhatsApp.

"Arya, aku hanya singgah sebentar di Jakarta. Kita ketemu yaa... Please. Di kafe biasa kita nongkrong. Kamis, jam 3 ya. Don't be late. Aku mau langsung flight ke Surabaya Kamis malam."
Tulisnya di pesan WhatsApp.

Tanpa bertanya lebih aku hanya jawab, "ya."
Tanpa dia harus tahu aku langsung menggeser semua rencana meeting dengan rekanan untuk tender penting itu. Riana tidak perlu tahu itu. Riana hanya cukup tahu bahwa aku akan selalu ada buatnya. Tami, sekretarisku, cukup kaget dan kebingungan saat kuminta dia mengganti semua jadwal meeting.

.....

Aku datang tadi setengah jam sebelum Diana datang. Sengaja. Aku belum makan siang. Jadi kupikir lebih baik menunggu Riana sambil makan. Selebihnya aku telah merindukan dia. Cerita-ceritanya yang menggebu-gebu. Aku merindukan matanya yang bulat bergerak-gerak lincah saat bercerita. Dengan pipinya yang bulat. Memandanginya bercerita bisa membuat semangatku bangkit. Selalu begitu.
Aku mulai mengenang pertemuan pertama dengan Riana. Juga di kafe ini. Dulu Riana bekerja di kantor rekananku. Dari jalur itu kami bisa berkenalan.

Tepat saat suapan terakhirku, Riana dengan ransel yang cukup besar muncul di pintu kafe sambil nyengir. Dengan gayanya yang selalu aku suka. Aku melambaikan tangan padanya, isyarat agar dia datang ke mejaku.

"Sorry ya Ar... Aku telat dateng," sapanya buru-buru. 

Aku hanya melirik tipis melihat arloji di pergelangan tangan kiriku. 15 menit dari waktu yang dia pinta.

"Belum telat kok, kalau sebungkus rokokku habis baru itu dibilang telat," kataku sambil menjabat tangannya. 

"Apa kabar kamu bocahhhhh..."
Aku acak rambutnya. Pura-pura kesal. Padahal aku rindu. Ingin memeluknya.

"He... Hehehe...," Riana berusaha menghindar tapi telat sepersekian detik. Dia terkekeh. Tawa yang selalu kurindu.

"Aku sibuk, Ar...."
Riana duduk di kursi depanku. Sambil mengambil kotak rokokku. Mengambilnya satu batang. Dan saat dia akan memantik korek, aku lebih cepat menyodorkan Zippo-ku langsung di depan mulutnya.

"Hei, sejak kapan kamu merokok?" tanyaku datar.
"Sejak aku jauh dari kamu, Ar, hahaha," tertawa lagi.



Ketika semua orang memanggilku Arya, hanya dia yang memanggilku 'Ar'. Riana memang unik.

"Kamu sehat kan, Ar?" tanyanya, wajahnya mulai tampak serius.
"Hmm... Kalau engga sehat, kita ketemu di rumah sakit dong," sahutku.

Kami terkekeh bersama. 

Sore itu terasa indah bagiku. Aku merasakan kembang layu di kebun hatiku mulai bersemi dengan siraman kebahagiaan ini. 

Aku menawarkan makanan tapi Riana hanya memilih es coklat. Kesukaannya.

"Jam berapa flight-mu?" tanyaku serius.
"Jam 9 sih, kenapa? Mau nganter ke airport?"
"Boleh aja sih, tapi liat dulu ntar yaa... Sejak kapan kamu jadi manja gini?" 

Aku mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan. Mengisap pertama dalam-dalam.

Riana nyengir lagi. Itu isyarat jawaban sebenarnya, yang kemudian terlambat sekian menit aku sadari.

Jarum pendek jam dinding di kafe sudah menunjuk angka lima. Riana melihat layar handphone yang dia taruh di meja.
Wajahnya tampak berubah. Aku tidak memahami apa yang sedang dia pikirkan.

"Kamu mikir apa, Riana?" tanyaku hati-hati. 

"Ah engga mikir apa-apa kok, hanya menghitung butuh berapa menit aku ke airport... Takut kejebak macet, Ar..."
Aku tahu dia menyembunyikan sesuatu. 

Tetiba dia membuka tas ranselnya yang tampak lebih lebar dari badannya yang mungil itu. Mengeluarkan kertas berwarna krem dibungkus plastik. Seperti undangan.
Meletakkannya di meja dan menyodorkan ke hadapanku. 

Aku merasakan ada pias di wajahku. Yang aku sembunyikan dengan baik. Meski rasanya aku gagal menyembunyikan.

Dengan tenang aku mengambil undangan itu. Tertulis di sana: Arya Hermawan Wiraatmadja. Lengkap dengan gelar dan nama perusahaanku serta posisiku di sana. Aku tersenyum tipis, masih bermaksud menyembunyikan pias di wajahku. Membuka plastiknya. Perlahan. Dan kusengaja. Aku masih melawan pikiranku sendiri. Semoga bukan namanya di sana.

Aku membaca namanya dan nama lelaki. Kemudian aku fokus di tanggal dan lokasi. Rasanya nyawaku lepas saat itu. 

"Ar, kamu harus datang ya... Acaranya sudah aku buat berdasarkan info dari mba Tami. Aku pilih di tanggal kamu engga sibuk meeting," Riana mencoba menjelaskan macam-macam tapi di telingaku rasanya hanya berdenging saja. Aku sudah tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan celotehnya lagi.

Mungkin aku gagal menyembunyikan pias di wajahku dan Riana tahu itu. 

"Ar, maafkan aku, baru ngasih tahu kamu sekarang..." dengan suara yang sangat halus hampir tak terdengar. Atau aku masih sibuk dengan denging di telingaku sendiri.

"Ya, aku akan datang, Riana. No worries."
Sambil senyum. Tapi kecut. Aku bisa merasakannya. 

"Kamu mau kado apa dari aku?" Aku berusaha mencairkan suasana yang beberapa detik terasa beku tadi.

"Beliin aku apartemen di Bali," katanya terkekeh. Aku langsung menyahut, "Tunjuk lokasinya, lantai berapa yang kamu mau. Biar nanti pas ke Surabaya aku bisa ngasih kuncinya ke kamu langsung."

Riana kaget. Dan respon itu sudah aku duga. Dia bahkan tidak perlu tahu, aku baru saja membelikannya rumah di Jakarta. Rencananya aku mau berikan buat nanti kalau kami menikah. Ah... Terlambat semuanya. Aku ingin memaki diriku yang begitu takut menyampaikan perasaanku padanya. Aku memang pecundang rasa.

"Aku becanda, Ar. Engga usah repot-repot, kamu dateng aja itu bagiku sudah melengkapi kebahagiaanku," tukasnya. Tapi aku sudah bertekad menghadiahinya apa yang dia inginkan.

Aku menyalakan rokok lagi. Aku berusaha mengurangi gundah hatiku dengan rokok ini. Entah batang yang ke berapa sore ini. Mengisapnya dalam-dalam lagi. Dalam hati aku masih merutuk.

.....

"Aku harus ke airport sekarang, takut kejebak macet. Kamu jadi antar aku apa engga, Ar?" Riana bertanya hati-hati. Kurasa dia mengerti perasaanku saat itu. Perih.

Aku sebenarnya masih ingin berlama-lama menikmati saat ini. Mungkin ini terakhir aku bisa bercengkrama dengan wajahnya yang bulat menggemaskan itu.

"Tunggu bentar, aku habiskan rokokku ya..."
Riana mengangguk. Suasana di antara menjadi sangat kaku. Setidaknya itu yang kurasakan.
Separuh batang rokok telah habis. Handphone di saku celanaku bergetar. Aku tahu ada telepon.

Aku ambil dari saku kanan celana, kulihat layarnya tertulis nama: Anita, lalu aku geser auto-message untuk menghentikan getarannya.

"Can't talk right now, I'm busy. I'll call you later." Anita adalah gadis yang dijodohkan denganku oleh papanya. Papanya rekan kerjaku di proyek yang lalu.

Ya, aku sibuk merapikan hatiku yang berantakan sore ini. 

Riana masih menungguku. Berharap aku mengantarkannya ke bandara. Aku tidak yakin akan sanggup. 

.....

"Riana, maaf aku harus ketemu klien, kamu naik taksi ya. I'll pay your taxi," aku ingin segera pergi dari hadapan gadis yang membuatku jatuh cinta satu dekade ini. Aku berbohong padanya. 

Riana nyengir. Tapi dia mengangguk. Sambil mengangkat jempolnya, "Ok, Pak Arya!"

Aku tahu dia masih berusaha mencairkan kekakuan mendadak kami. 

Aku membayar seluruh tagihan makanan dan keluar untuk mencarikan taksi buat Riana. Kuberikan selembar voucher. "Nih, nanti tulis aja nominalnya, bapaknya dikasih tips tambahan di voucher ya."

Riana tertawa. Lalu memelukku kuat sekali.
Ini seperti pelukan terakhir bagiku.
"Arya, terima kasih banyak buat selalu hadir di hari-hariku."

Aku mengangguk. Berusaha menahan mata yang terasa sedikit berair.

Sebuah taksi mendekat. Riana masuk taksi dan menurunkan kaca jendela. "Kamu hati-hati ya," pesanku. 

Dia nyengir lagi. Sambil teriak dari dalam, "aku tunggu di Surabaya!"
Aku melambaikan tanganku. 

Taksi pergi membawa Riana, membelah lalu lintas Jakarta, sore itu. 

Aku masih merasakan perih. Melangkah masuk ke kafe lagi. Aku belum sanggup beranjak kemana-mana. Aku merasa begitu bodoh, tidak berani mengungkapkan perasaanku pada Riana. 

.....

Epilog:
Di taksi, Riana menyeka air matanya dengan tissue. Riana menangis. Dia benar-benar merasa bertepuk sebelah tangan pada Arya. Dodi Setianto, nama dalam undangan itu, baru dua bulan berkenalan dan memberinya perhatian dan melamarnya sebulan lalu. Diterimanya lamaran itu karena merasa cintanya pada Arya tidak bersambut.





Sabtu, 11 Mei 2019

Petaka Cinta


Sudah seminggu ini Arman tidak pulang. Pamitnya minggu lalu dia meeting ke Surabaya. Padahal aku tahu, dari applikasi yang aku tanam di gawainya dia hanya pergi ke Bogor. Posisi terakhirnya di hotel Seruni. Setidaknya itu yang aku amati hingga dua hari lalu. Bahkan Arman sama sekali tidak menelepon atau mengirim pesan kepadaku selama lebih dari tiga hari. Ini bukan kebiasaannya. Tapi aku sengaja diam saja.


Perilaku Arman memang berbeda sejak berkenalan dengan Rina, mahasiswa IPB jurusan Kehutanan itu. Mungkin awalnya karena Rina membantu Arman penelitian. Aku mengetahuinya melalui interaksi singkat mereka di Facebook. Selebihnya aku menggunakan insting istri dan observasi langsung.


"Sayang, aku pulang nanti sore ya... Buatin aku kolak pisang kesukaanku dong" rengek Arman di telepon barusan. Dan aku menjawabnya singkat karena aku juga harus buru-buru berangkat ke pasar.



Sore hari saat aku menyiapkan makan malam kami, Arman tetiba memelukku dari belakang dan menciumi leherku seperti biasanya. 

"Nih aku udah buatin kolak pisang kesukaanmu, Mas. Makan yuk, aku juga laper nih" ajakku pada Arman. 

Arman melepaskan pelukannya dan pindah ke kursi makan. Aku sendiri tadi sudah membuat mie instan pedas kesukaanku. 

"Enak, Yang. Pisangnya pas matangnya" puji Arman sambil mengunyah pisang. Aku tersenyum tipis sambil pura-pura kepedasan.

Gubraaakkk...! Arman terjatuh terkulai dari kursinya.
 Henti napas. Aku cek nadi karotisnya. 

Sudah berhenti. Berarti zatnya sudah aktif. 

Aku ambil telepon genggamku dan di panggilan keluar langsung aku tekan namanya, Boris. Saat telepon tersambung, "Boris, segera ke sini ambil mayatnya. Buruan!" Telepon ditutup dan aku tersenyum lega. Melanjutkan makan mie instanku sambil nunggu Boris menjemput tubuh Arman.

Jumat, 10 Mei 2019

Yorick: Sebuah Ambiguitas





Membaca Yorick, novel yang ditulis oleh Kirana Kejora berdasarkan kisah nyata itu, membuat saya harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa Yorick ini sebenarnya kisah non-fiksi. Kisahnya memang begitu dramatis hingga membuat saya bertanya, 'ini beneran ada kisahnya seperti ini?'

Nyatanya memang ada. Kirana menuliskan bahwa Yorick bak kuda terbang. Binatang fantasi namun secara nyata fisiknya kita mendapatinya seperti kuda. Binatang setia yang rajin bekerja. 

Andai saya adalah ahli bahasa dan mampu merekomendasikan kata yorick ke dalam KBBI, mungkin padanan kata ini adalah tidak lelah berusaha. Sehingga bila dipakai dalam kalimat misalnya: meyorick artinya adalah berusaha tanpa kenal lelah. Terdengar berlebihan memang, namun demikian adanya. Menurut saya.



Bagian awal novel ini, Kirana menggambarkan suasana Saint Petersburg dengan sangat detail dan bagi yang belum ke sana akan bisa merasakan suasananya tampak di depan mata. Bagi sebagian orang ini tampak membosankan apalagi bila pembaca belum membaca peta Saint Petersburg itu sendiri. Kirana melakukan hentakan dengan kisah Yorick dewasa yang galau dan tampak kosong meskipun secara nyata hidup penuh kelimpahan. Galau dan kosong karena ekspektasinya menjumpai dan berinteraksi dengan Nevia ditolak mentah-mentah. Hal ini semestinya tidak perlu terjadi karena Yorick digambarkan sebagai sosok laki-laki idaman perempuan lajang. Terdapat pemandangan di Saint Petersburg yang digambarkan dengan apik oleh Kirana hingga mampu menarik kilas kenangan Yorick dengan Mak Encum seakan diputar lagi dalam memorinya. 


Sampai bagian ini alur menjadi berubah.


Cerita bergeser ke Panjalu Ciamis yang menurut saya lebih mudah dibayangkan oleh pembaca yang tahu daerah Jawa. Kisah Yorick kecil inilah yang tadi saya maksudkan seakan-akan harus selalu menyadarkan diri sendiri bahwa ini adalah non-fiksi. 
Pelajaran dan filosofi hidup dari Mak Encum kepada Yorick dituliskan Kirana dengan gaya yang sangat mudah dipahami namun sarat makna. Penuturan dan gaya bahasa Kirana pada bagian ini sangat membumi. Cerita tentang perundungan ala kampung yang masih saja terjadi hingga kini diselipkan dengan sangat halus disertai respon emosi khas anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan. Pada kisah Yorick kanak-kanak diselipkan kembali kisah Yorick dewasa yang membuat alur maju dan mundur terasa makin kental. Gaya penulisan Kirana pada bagian ini membuat pembaca penasaran ingin mengetahui ‘penderitaan’ apa lagi yang dialami Yorick. Ini menarik sekali. Pembaca mulai diseret emosinya dengan bagian kisah Mak Encum yang mulai sakit dan hilang dari rumah pada hari Jumat. 



Kisah infaq Jumat 60 ribu menambahkan kesan dramatis berikut sandal jepit untuk nenek. Bagian ini kental sekali dengan fiksi bahwa ‘mana mungkin anak sekecil itu bisa sepengertian itu pada neneknya yang mengasuh sejak bayi’. Agak janggal memang. Mobil-mobilan plastik dan layangan yang terasa ‘wajar’ bagi kita diceritakan menjadi barang yang sangat mewah dalam bagian itu. Pembaca dibawa ke perenungan dalam tentang makna bersyukur pada bagian ini.

Seperti membaca buku spiritual dalam kemasan novel. 





Kisah Yorick melaju dengan alur maju saat Yorick harus menumpang bersama sang paman di Bandung. Sayang tidak diceritakan dengan detail pada bagian ini tentang kota Bandung di sudut kampung mana. Kirana sepertinya lolos pada bagian ini. Bayangan kehidupan ‘susah’ sang paman menjadi kurang kuat karena setting lokasi yang minim. Labeling, seperti yang masih banyak terjadi di masyarakat kita, menjadi pemanis cerita pada bagian Yorick dianggap membangkang dan pergi dari rumah tempatnya ditampung. Sayangnya lagi, Kirana juga tidak menuliskan dengan tegas apakah yang dilakukan Yorick itu minggat atau bagaimana. Kirana sebaiknya menambahkan keterangan perasaan atau emosi Yorick pada bagian ini. Meskipun Kirana menggambarkan Yorick ‘cukup’ berteman dengan Jaung, ayam pemberian Mak Encum yang dianggapnya sahabat dan telah lama dipelihara. Bagian ini menggambarkan betapa kuatnya Yorick menghargai persahabatan. Yorick dan Jaung adalah clue awal atas setiap persahabatan yang kemudian diceritakan pada bagian selanjutnya. 



Kembalinya Yorick ke Panjalu dan mendapati bahwa rumahnya tempat ia tinggal bersama Mak Encum telah rata dengan tanah menggambarkan bahwa Yorick memiliki alur pikir sederhana nan kuat. Tekadnya menggambarkan kemauan yang keras. Pola pikir sederhana ala anak-anak disertai kondisi emosi yang kuat. Deskripsi perasaan Yorick dituliskan sangat gamblang oleh Kirana pada bab-bab ini.

Bab selanjutnya tentang perjumpaan Yorick dengan orang-orang yang membantunya. Pada bagian ini Kirana membawa pembaca untuk memahami bahwa setiap orang adalah guru bagi seorang lainnya, bila orang tersebut mau belajar. Banyak pelajaran hidup yang diberikan oleh orang-orang yang dijumpai oleh Yorick yang bermakna dalam pembentukan karakter berikutnya. Perjalanan Yorick kembali ke Bandung menjadi makin drama ketika dia digambarkan benar-benar menjadi anak jalanan dan gelandangan tanpa tempat tinggal. Bagi pembelajar, cara Kirana menuliskan bagian ini benar-benar membawa pada kontemplasi pembaca tentang kehidupan yang bahkan ‘tidak tersentuh’ sebelumnya. Kirana menggambarkan situasi dan emosi Yorick dengan sangat jelas pada bagian ini. Menurut saya pribadi, ini menjadi perenungan mendalam tentang makna sendiri dan hanya mengandalkan Tuhan melalui harapan dan doa. 


Perjumpaan Yorick remaja dengan berbagai karakter orang, seperti Gilang misalnya, mulai menjadi titik balik situasi emosi. Sikap lingkungan kepada Yorick dan gaya bahasa Kirana dalam menuliskan kondisi emosi Yorick juga menjadi dua hal yang berlawanan. Kontradiktif yang manis. Satu sisi pembaca dibuat kesal oleh drama penderitaan yang dialami Yorick, yang seakan-akan tidak mulai berkurang dengan perjalanan waktu. Sisi yang lain pembaca juga dibuat harus dapat memaknai istilah bersyukur lebih dalam dan semakin dalam lagi. Mungkin ini adalah gaya khas Kirana dalam mengaduk emosi pembaca.

Pada bagian Yorick remaja dan menjelang dewasa ada beberapa bagian yang janggal seperti topik yang tetiba muncul, misalnya tetiba Yorick harus menjual HP untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Janggalnya adalah tidak diceritakan bagaimana perjuangan Yorick untuk dapat memiliki HP tersebut lebih detail. Menurut saya ini perlu dituliskan mengingat pembaca telah jatuh hati pada kisah Yorick kecil dan remaja yang penuh derita. Juga bagian Yorick sakit dan harus rawat inap di rumah sakit. Tidak dituliskan dengan detail apa diagnosis Yorick saat itu. Mungkin Yorick sebagai nara sumber juga terlewat untuk  menyampaikan hal ini kepada Kirana. 


Pembaca mungkin sangat berharap bahwa bagian kepergian nenek adalah klimaks dari kisah Yorick seperti yang digambarkan di cover dan promo novel serta filmnya. Ternyata bagian ini hanya dituliskan sebanyak empat halaman oleh Kirana. Proses detailnya pergumulan batin Yorick dan usaha pencariannya terhadap keberadaan Mak encum tentu akan menjadi klimaks yang lebih menarik bila ditambahkan.



Filosofi kehidupan yang sangat sarat di bagian awal terasa makin susut saat dikisahkan bagaimana Yorick membangun kerajaan bisnisnya. Ada pembahasan satu kalimat tentang kehidupan Yorick dari dan di dunia maya, yaitu alter ego, yang Kirana tidak menuliskan bagaimana hal itu dijalani oleh Yorick. Bagian ini dapat dihilangkan karena hanya satu baris kalimat. Menurut saya penghilangan bagian ini tidak akan menggangu jalannya cerita. 

Bagian akhir novel ini tentang kerajaan bisnis Yorick dituliskan datar saja tanpa detail emosi Yorick yang kuat dikesankan seperti di bagian awal dan tengah. Meskipun novel ditutup tidak dengan happy ending, pesan moral dan nilai pada bagian akhir masih kental dengan kenangan Yorick terhadap neneknya. Ini membungkus kembali kisah grandparenthood yang diusung pada novel ini. Quote Yorick tentang cinta, relationship dan penikahan atau dapat berbentuk slogan dana tau sikap, saya yakin, akan membuat ’wrapping’ bak kotak kado dengan pita pemanis. Pembaca sebaiknya disuguhi ini pada bagian akhir. 

Secara umum, beberapa didapati istilah yang belum sesuai dengan KBBI dan kata baku bahasa Indonesia. Kesalahan yang dilazimkan akan sangat disayangkan bila dilakukan oleh penulis sekaliber Kirana Kejora. Penggunaan diksi yang belum lazim sehari-hari akan memperkaya khazanah perbendaharaan bahasa Indonesia bagi pembaca. Ini memang 'tugas' penulis Indonesia secara umum. Kirana juga menuliskan cuplikan dialog dengan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa Timur Suraboyoan dan bahasa Sunda, serta bahasa Rusia dan Inggris. Sayangnya tidak disertakan artinya sebagai footnote tiap halaman yang diselipkan bahasa asing tersebut. Penggunaan bahasa asing (selain bahasa Indonesia) dalam dialog akan membuat buku terasa down to earth berdasarkan setting cerita. Tata letak dan pemilihan halaman sampul serta jenis kertas sangat menarik. Tebal tapi ringan dijinjing, ciri khas buku kekinian. Pembaca secara umum pasti menyenangi pilihan ini.


Selamat mengalami roller coaster dengan kisah Yorick ini. Menyelesaikan novel Yorick akan membuat pembaca tidak sabar menanti penayangan filmnya. Mari meyorick dengan penuh keyakinan!


Statistik buku
Judul                            : Yorick
Penulis                         : Kirana Kejora
Penyunting                  : Key Almira
Jumlah halaman         : 346 halaman
Penerbit                      : PT. Nevsky Prospekt Indonesia


Rabu, 08 Mei 2019

Kelebat Rasa


Dengan langkah tergesa aku masuk ke toilet wanita di bioskop ini. Aku sudah menahan kencing setidaknya satu jam belakangan, sejak pertengahan film yang kupilih untuk kutonton tadi sore. Mengedarkan pandangan. Mencari bilik yang pintunya tampak terbuka. Semuanya terpakai. Ditandai pintunya tertutup. Eh, ada satu bilik pintunya terbuka. Berada di paling ujung terjauh. Aku bergegas menuju pintu itu yang berjarak hanya sekitar tujuh langkah dari tempatku semula berdiri.


Sebelum masuk aku pastikan tidak ada orang di dalam. Aku dorong pintunya. Kosong. Saat aku masuk dan sedikit membalik badan untuk menutup pintu, aku melihat sekelebat bayangan hitam di cermin yang berada di sepanjang dinding di depan deretan pintu bilik di toilet ini. Padahal tadi hanya aku sendiri yang mengantri di sini. Tapi bilik sebelah masih tertutup pintunya. Entah ada orang atau tidak di dalamnya, aku tidak terlalu peduli. Aku ingin buru-buru menyelesaikan hajatku.



Setelah menurunkan celana jeans dan celana dalamku, aku duduk di toilet dan mulai kencing. Aku merasa udara dingin seperti menyergap. Jaketku rasanya tidak kuasa menahan dingin itu. Mungkin di luar hujan, demikian pikirku. Tidak lama berselang, hanya sekian detik, saat aku masih membuang hajat, muncul sosok hitam tadi di depan mata. Berjarak hanya sedepa. Aku terperangah. Antara takut dan khawatir juga bingung. Sosok ini seperti yang tadi ada di bayangan cermin. Mukanya datar, dari lubang yang kusangka itu mulut, keluar asap. 
 Aku merasa udara makin dingin. Kakiku seperti terpaku ke lantai dan mulutku seakan dibekap untuk sekadar teriak minta tolong. Telingaku berdenging. Tapi masih kudengar suara sosok itu, "Mila antarkan aku ke rumah orang yang memerkosaku hingga seperti ini... Aku rindu ingin bertemu dengannya untuk bercumbu lalu menghabisinya. Setelah itu aku akan pulang dengan tenang. Aku rindu pulang, jangan tahan aku lebih lama di sini." Aku masih terperangah sosok itu perlahan tidak nampak, seiring pandanganku yang mulai gelap.

..... 

#Pentigraf 

Toleransi Beragama dalam Kemasan Dilema antara Cinta dan Komitmen


Film Ave Maryam yang diperankan secara apik oleh Maudy Koesnadi dan Chico Jerikho dilaunching sekitar peringatan Paskah yang jatuh di tanggal 19 April tahun ini. Secara resmi kita dapat menikmati film ini sejak tanggal 11 April 2019. Film berdurasi 73 menit ini mengambil setting di kota Semarang dengan Pemandangan di area Gereja Blenduk, Semarang Utara.

Kekuatan film ini ada pada kemampuan akting semua pemerannya. Mimik muka dan bahasa tubuh dalam setiap scene mampu menggantikan dialog antara pemain. Penonton akan mampu menelaah setiap adegan dengan akting minim dialog yang dijadikan oleh seluruh pemeran film secara sederhana. Tentu saja ini tidak mudah untuk dilakukan. Bahkan beberapa penonton sampai mempertanyakan apa agama Maudy Koesnadi. Hal ini berarti akting Maudy mampu membungkus pesan seperti itulah kehidupan seorang suster Katolik yang bertugas merawat suster seniornya.




Pesan toleransi sangat kuat pada adegan gadis kecil pengantar susu,  diperankan oleh Nathania Angela Widjaja, gadis kecil berjilbab yang selalu mengantar susu dan kerap menjadi kurir antara suster Maryam (Maudy Koesnadi) dan Romo Yosef (Chico Jericho). Saya sendiri merasa agak takjub menyaksikan adegan adanya anak kecil berjilbab yang masuk ke kesusteran juga ke gereja untuk bertemu Romo dan mengantar makanan.

Ertanto Robby Soediskam sebagai sutradara dan penulis naskah mengemas setiap adegan minim dialog ini dengan baik dan menggantikan dialog dengan sajian adegan yang membuat penonton seperti tidak rela untuk sekadar ke toilet. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya berpikir akan banyak adegan yang menggunakan ayat Alkitab pada film tersebut atau juga membahas Ketuhanan, nyatanya fokus cerita film itu sendiri adalah seputar manusia. Dengan rasa dan hasrat alamiahnya, yaitu ketertarikan antar lawan jenis.

Berpuluh menit pertama film terasa datar, tidak ada konflik. Hingga muncul Romo Yosef yang piawai bermain alat musik dan bertugas melatih tim paduan suara gereja. Rupanya hal ini pula yang membuat Suster Maryam tertarik pada awalnya. Penonton akan dibuat deg-degan dengan kelanjutan dan ending dari film ini, yaitu bahwa Suster Maryam dan Romo Yosef memilih keluar dari komitmen demi rasa yang timbul di antara mereka.

Menurut saya, ada adegan yang cukup janggal yaitu ketika Maryam dan Yosef ke pantai. Saya agak mikir keras, di mana pantai tersebut karena Semarang berada di pesisir utara pulau Jawa, yang rerata tidak berantai landai.


Judul filmnya memang tampak kuat mengandung gambaran Kristiani layaknya kisah dan hymne Ave Maria. Bahkan saya pun sudah underestimate terlebih dahulu dengan judulnya dan membaca sinopsis singkat. Saya membayangkan film ini memiliki plot dan jalan cerita seperti novel Paulo Coelho, Di Tepi Sungai Vietra Aku Menangis, nyatanya sama sekali tidak. Film yang mengusung setting lokal Indonesia dan bentuk toleransi beragama di Indonesia ini memang terkesan berat dan dewasa, namun tetap dapat dinikmati oleh penonton yang berusia belasan tahun. Tidak terdapat adegan dewasa di dalamnya meskipun jalan ceritanya kuat mengusung pertentangan batin dan dorongan hasrat manusiawi yang telah mengikatkan diri untuk hidup selibat. Film ini akan memperkaya khazanah pemikiran dan cara pandang kita, bila saat memutuskan menontonnya kita telah 'kosongkan' kotak asumsi dan doktrin agama.

Selamat menikmati film dari anak negeri sendiri. 

Sarapan Pagi Jonathan


Setelah menenggak habis segelas susu dinginnya Jonathan mulai menikmati omelet buatan mamanya. Tanpa keju tanpa potongan ham. Hanya berisi bawang, tomat, dan daun bawang. Digoreng kering hingga ke dalam. Mama tahu Jonathan tidak menyukai omelet yang basah. Jonathan menyeringai senang. Puas dan kenyang sepertinya.



"Eerrghhhh..." tanpa menutup mulut atau berusaha menahan suara itu meluncur begitu saja dari bibir Jonathan. "Jo, ditutup dong mulutnya. Itu tidak sopan, Nak," tegur mama.

Jonathan hanya mengangguk dan pergi kembali ke kamarnya. "Jo mandi! Sebentar lagi bus sekolah datang menjemputmu!" teriak mama sambil merapikan meja makan.
....
#Pentigraf

Belum Pulang



"Kan sudah kubilang, sana pulang! Mengapa masih di sini saja?"
Kesal. Rasanya tidak lagi bisa kutahan emosi malam itu. Melihatnya masih saja di sini.

Dia menunduk lesu, tampak terisak dan menangis seperti anak-anak. Aku juga iba sebenarnya. Tapi aku tetap bersikeras menyuruhnya pulang dan tidak mau tergoda untuk berbaik serta bersantun kata padanya.

"Aku hanya mau meminta maaf, aku tahu aku salah telah menusuk dadanya hingga tewas. Sementara kau tahu, hantaman truck itu kuanggap sebagai balasan setimpal untukku hingga aku kesulitan menemukan jalan pulang," Aku terdiam dengan penjelasannya itu. Tapi aku masih bersikeras. "Bagaimana caranya kamu minta maaf, sementara dia yang kamu bunuh sudah pulang terlebih dahulu? Kamu jangan banyak alasan di depanku, Setan!" Hardikku lagi, masih dengan emosi.


.....

#Pentigraf

--dialog roh--

Selasa, 07 Mei 2019

Sarapan Pagi



Masih dengan piyama lusuhnya, Jonathan terhuyung berjalan menuju lemari pendingin. Dibukanya lemai pendingin itu. Lalu dia mengambil kotak susu yang tinggal separuh.

Berjalan ke meja makan dan meletakkan kotak susu itu setengah dibanting. Tanda kesal. Juga mencari perhatian mamanya. "Aku bosan sarapan susu dingin setiap pagi! Aku ingin seperti teman-temanku yang makan sandwich dengan keju dan ham! Kalau Mama tidak belikan itu besok, aku mau mogok makan seminggu!"

Mamanya kaget dengan teriakan Jonathan yang agak tinggi. Bergegas dihampirinya anak itu, anak yang sudah 3 tahun menemaninya. Dielusnya kepala Jonathan seraya menenangkan, "Jo, Mama buatkan omelet mau? Maafkan Mama tadi kesiangan. Mama tadi setelah mengantar pesanan jahitan langsung pulang, tidak sempat ke toko beli roti buat kamu."  Jonathan hanya mengangguk tipis. Jonathan tidak tahu, hanya tersisa satu lembar $5
di dompet mamanya.

......
#Pentigraf
#bebasmenulis

Gambar diambil dari Pixabay

MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...