Minggu, 01 November 2020

Rindu Menderu

RINDU MENDERU

Suara riuh di ruang tengah dan dapur rasanya tak membuat Junaedi bergeming untuk keluar dari kamarnya sore itu. Baginya, bersendiri di dalam kamar dan mengadu pada Sang Maha menjadi hal yang lebih menarik ketimbang bersendau gurau atau sekadar basa-basi dengan saudara dan tetangga sekitar yang datang membantu acara kirim doa dalam acara empat puluh harian nanti malam.

Empat puluh hari telah berlalu, tetapi kesedihan itu masih terus menderu. Tidak mudah bagi Junaedi untuk menghadapi keadaan bahwa dirinya telah menjadi yatim piatu. Bapaknya telah berpulang lebih dulu saat dia masih bersekolah di SMP. Kali ini ibunya. Sahabat dan panutannya. Perih bila harus mengingat bahwa dirinya kini sebatang kara.

Masih teringat libur semester lalu, dengan sangat serius ibunya bercerita bahwa kondisi jantungnya makin payah. Meskipun ibu terus meminum obat yang diberikan oleh dokter, tetapi rasanya itu tidak banyak membantu.

Dua minggu sebelum ibunya dipanggil ke pangkuan Illahi, Junaedi berada di situasi yang menggelisahkan. Junaedi harus mempersiapkan siding skripsinya di Jogjakarta. Mustahil baginya untuk pulang pergi setiap hari, menempuh perjalanan Ngawi-Jogjakarta. Dengan berat hati dan tentu dengan restu ibunya, Junaedi memilih bertahan di Jogjakarta dan menyelesaikan persiapan siadang skripsinya.

“Sudahlah, Le. Kamu selesaikan sidangmu segera ya, lalu pulang nemenin ibuk,” pesan ibu sebelum berangkat ke Jogjakarta setelah libur semester lalu usai.

“Baik, Buk. Aku akan segera ajukan jadwal sidang. Ibuk yang tenang ya, jangan banyak mikir dulu, toh kuliahku sudah mau selesai,” ujarnya pada ibu agar beliau tenang.

Di dalam kamar ibunya, sore itu, Junaedi kembali memutar semua kenangan bersama ibu. Membaca setiap larik pesan yang dikirim ibu melalui sms. Tidak ada yang terlewat. Untung saja tidak ada yang dihapus. Pesannya tentu akan dia jadikan wasiat berharga. Meskipun mungkin terlihat sangat biasa bagi orang lain.

“Le, jangan lupakan salatmu, ya. Apapun keadaanmu, jangan lupa sama Yang Nggawe Urip. Karena Dia sebaik-baik penolong. Bukan ibu atau siapa pun kelak,” kalimat itu seperti default diucapkan ibu saat mereka bertelepon.

“Le, kamu harus yakin seberat apa pun bebanmu, itu tidak akan berlangsung selamanya. Itu hanya sementara. Kamu harus selalu mengucap syukur dalam setiap situasimu. Enak ataupun engga enak. Jangan lupa bersyukur.”

Junaedi kali ini benar-benar menangis di hadapan Tuhannya. Sambil bertanya apa yang harus dia syukuri bila harta satu-satunya juga telah dipanggil pulang oleh-Nya. Junaedi bahkan belum sempat mengenakan toga tanda kebanggaan dan apresiasi terhadap perjuangan ibunya yang semasa hidupnya mengabdi menjadi guru SD itu.

Kemarin-kemarin Junaedi masih dapat menahan air mata di hadapan para kerabat yang datang melayat. Namun, kali ini Junaedi tidak mau jaim di hadapan Tuhan. Dia benar-benar merasa sendiri dan merindukan ibunya. Sudah tak dapat lagi kirim sms ataupun menelepon. Sudah tak dapat lagi menikmati lodeh terong, orek tempe dan tempe goreng kesukaannya lagi. Sudah tak dapat lagi berkeluh kesah karena dosennya yang galak. Semua kesempatan itu sudah hilang kini.

Ternyata kerinduan yang menderu kali ini benar-benar berat dan menyakitkan baginya.

https://youtu.be/CJC5PY5erzI 

Ratna Hadi
#singandwritechallenge
#day1
#ratnafeatmila
#sebulanjadibuku

Selasa, 31 Desember 2019

Terima Kasih 2019, Halo 2020


Banyak orang yang berkata, "Waktu berlalu begitu cepat ya." Memang rasanya baru kemarin kita mengucapkan 'Selamat Tahun Baru 2019' tetapi hari ini kita sudah akan mengatakan hal yang sama untuk tahun 2020. Bulan-bulan berlalu dengan cepatnya selama 2019. Banyak peristiwa terjadi selama tahun 2019 yang membuat kita semua merasa waktu cepat sekali berlalu. Padahal satu hari masih tetap 24 jam, seperti masa-masa sebelumnya.

Beberapa hari kemarin sebagian dari kita sudah mengecek daftar resolusi yang dibuat tahun lalu. Atau bahkan sudah dilakukan sejak masuk bulan Desember. Gundah atau bahkan merasakan hal yang tidak jelas karena mendapati bahwa resolusi tahunan beberapa belum tercapai. Namun, sesal kemudian tiada berguna, bukan?

Resolusi yang banyak dicek adalah pencapaian-pencapaian yang dapat diukur oleh diri sendiri, serta lingkungan. Pencapaian yang bersifat tampak, kongkret. Omzet perusahaan, jenjang karir dan kepangkatan, prestasi atau achievement, perkembangan usaha, berat badan turun dengan diet, dan lain-lain. Peningkatan dan penurunannya menarik sekali untuk diamati dan dianalisis.

Tidak salah tentu saja membuat goals atau pencapaian secara materi atau hal-hal nampak lainnya.
Tidak pernah salah.

Namun, ada hal yang kita juga harus ingat bahwa ada pencapaian lain yang sudah selayaknya kita kejar ketika usia kita bertambah. Yap. Pencapaian karakter. Karena tidak ada SOP khusus yang dapat dikerjakan saat kita mengejar goals ini. Siapa yang berani membuat langkah-langkah level kesabaran, misalnya, bila tidak melakukannya sendiri. Selain goals karakter, yang berdekatan dengan hal ini adalah misalnya goal relationship. Bagaimana hubungan kita dengan orang tua, mertua, saudara kandung, saudara ipar, kerabat jauh, rekan kerja, partner bisnis, tetangga sekitar rumah atau kepada orang-orang yang kita anggap tidak penting di sekitar, seperti petugas janitor mal, OB dan OG di kantor, ART di rumah, satpam kompleks, security di stasiun MRT, petugas TransJakarta.

Apakah ada standar khusus bahwa kita sudah menjadi orang baik?

Berat, ya, menjawabnya. Hehehe.
Apakah kita juga sudah mengukur pencapaian perbaikan karakter kita selama tahun 2019, termasuk hubungan atau relationship dengan sekitar? Apakah benar kita sudah lebih sabar selama tahun 2019 dibanding tahun-tahun sebelumnya? Apakah benar kita sudah jauh lebih jujur ketimbang masa-masa sebelumnya? Apakah kita sudah bisa dengan mudah memaafkan orang yang tidak sengaja menginjak kaki di KRL atau yang tetiba menyerobot di jalan raya saat mengemudi dibanding tahun lalu?
Apakah kita sudah lebih baik dalam mengekang tali pengendalian diri kita selama 2019 dibanding sebelumnya?

Berapa banyak kasus yang terjadi di sekitar kita akibat rendahnya kemampuan pengendalian diri? Misalnya, ingat kasus yang baru-baru ini marak dibagikan videonya tentang seorang ibu yang mengendarai kendaraan lalu mengata-ngatai sesame pengendara lain dengan istilah rasis hanya karena masalah yang mungkin dapat diselesaikan dengan ngopi atau ngeteh bersama. Kemudian warganet lain yang juga masih memiliki tingkat pengendalian diri yang belum mumpuni ikutan menebar tagar di akun-akun pribadinya. Jelas tagar yang memicu perpecahan.

Berapa banyak dari kita yang menyadari bahwa ternyata kemampuan dalam pengendalian diri serta karakter kita membawa dampak yang begitu luas kemudian? Saat kita membiarkan amarah kita meledak atau membaiarkan jempol kita terpancing berkomentar, saya yakin bahwa kita belum sedalam itu memikirkan dampak yang akan timbul dari ledakan emosi kita.

Puluhan tahun lalu saat saya membaca buku Quantum Learning karya Bobbi DePoter dan Mike Hernacki, ada bab yang membahas AMBAK. Singkatan dari Apa Manfaatnya Bagiku. Dan kata itu seringnya menjadi pengingat buat diri saya pribadi bila saya akan melakukan sesuatu yang agak ajaib semisal meliarkan amarah dan emosi saya di tempat dan saat yang tidak sesuai. Tidak selalu ingat bahkan, tetapi setidaknya bila terlanjur meluapkan emosi, saya menjadi lebih mudah ingat dan bertanya pada diri sendiri, apa manfaatnya respon saya barusan buat diri saya ya?

Dan jawabannya kebanyakan hanyalah karena ingin urusan ego dan ke-aku-an belaka. Dengan kata lain, respon yang telah saya lakukan ternyaa tidak membawa manfaat apapun buat diri pribadi dari sisi peningkatan karakter.

Pinterest.com


Tenang…. Saya pun masih manusia biasa yang daif dn banyak khilaf.
Menulis seperti ini juga sekalian mengingatkan diri saya pribadi bahwa masih banyak yag harus saya benahi hari lepas hari, peristiwa lepas peristiwa.
Menjadi salah itu manusiawi, namun, kita akan menjadi manusia yang lebih baik bila kita telah sanggup secara cepat memperbaiki kesalahan itu dan meminta maaf atau mengampuni. Kemudian secara cepat menganggap hal yang kita berikan respon lebih tadi ternyata adalah hal yang sangat tidak penting buat kita, tidak membangun diri pribadi justru sebaliknya mendorong mundur kualitas karakter kita.

"Between stimulus and response there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom.”― Viktor E. Frankl  

Quote di atas menarik sekali bila dicermati dan dijadikan pembelajaran serta pengingat bahwa respon kita menunjukkan kedewasaan kita, pertumbuhan emosi serta karakter juga. Kadang kita sendiri tidak menyadari bahwa permasalahan dapat muncul karena respon kita, bukan karena masalah itu sendiri. Atau dapat juga bahwa respon kita memperburuk situasi permasalahan yang telah ada sebelumnya. Runyam.  

Januari 2020  ini telah dibuka dengan hujan semalam yang dingin dan menyisakan genangan air di banyak tempat di area ibukota. Sudah saatnya kita mulai menuliskan resolusi, target, goals, untuk satu tahun depan. Jangan lupa dibuat secara periodik misalnya setiap tiga bulan dan enam bulan juga. Sisipkan target perbaikan karakter serta hal-hal yang akan terdampak dari perbaikan itu. Buat dengan teknis yang mudah diukur oleh diri sendiri. Karena sebenarnya hanya kita yang mampu mengukur peningkatan karakter itu sendiri meskipun lingkungan sekitar akan merasakan kebaikan yang terpancar. Perbaikan karakter kita tentu saja akan berdampak langsung dan tidak langsung terhadap pelbagai jenis relationship yang kita miliki. Jangan lupa juga, rayakan setiap perbaikan karakter yang telah kita capai seperti saat kita merayakan prestasi-prestasi kita yang nampak lain. Berikan penghargaan pada diri sendiri setelah secara periodic terbukti makin sabar, misalnya.

Berterimakasih pada tahun 2019 yang telah banyak memberikan kesempatan belajar dan menjadi lebih baik. Siap menyambut tahun 2020 yang akan membawa banyak kesempatan baik untuk terus belajar dengan kerendahan hati.

Selamat tinggal kenangan tahun 2019, selamat datang mimpi dan harapan selama 2020.

Rabu, 13 November 2019

CHARLIE'S ANGELS: 16 TAHUN PENANTIAN YANG TAK BOLEH DILEWATKAN

Generasi X yang saat film Charlie’s Angels pertama tahun 2000 rilis pastinya telah menanti rilis sekuelnya pada Nopember 2019 ini. Film yang dibintangi oelh Drew Barrymore, Cameron Diaz, dan Lucy Liu saat itu memang sangat menarik. Film ini diangkat dari serial televisi dengan judul yang sama pada tahun 1970-an, tak ayal kehadiran Charlie’s Angels versi layar lebar menjadi sangat dinantikan. Film itu dirilis pada tanggal 3 November 2000. Sekuelnya juga dirilis tahun 2003 dengan judul Charlie’s Angels: Full Throttle.

Namun, jangan salah, Charlie’s Angels versi tahun 2019 bukanlah ‘versi muda’ dari Natalie, Dylan, dan Alex yang saat itu diperankan oleh Diaz, Barrymore, dan Liu. Charlie’s Angels yang rilis di Jakarta tanggal 13 November 2019 ini diperankan oleh Elizabeth Banks, yang juga menyutradarai film ini, sebagai Bosley, Kristen Stewart, Naomi Scott, Ella Balinska, serta actor gael Patrick Stewart. Yang agak janggal pada film ini adalah, kita yang terbiasa mengikuti serial fil X-Men pasti agak kecewa Karena Patrick di film ini membawakan peran antagonis. Bukankah beliau telah dilekati dengan peran protagonist pada serial X-Men selama ini. 
Cerita Charlie’s Angels kali ini dimulai dengan adegan perayaan pensiunnya John Bosley (Patrick Stewart) dari Townsend Agency. Kristen memerankan Sabina, Naomi Scott, dan Jane, si mantan anggota M16, diperankan dengan baik oleh Ella Balinska. Charlie’s Angels kali ini tetap menceritakan tentang perempuan cantik menawan nan tanggih dan cerdas dalam menumpas kejahatan. 
Kisahnya dimulai saat seorang ilmuwan sistem (Elena) yang membongkar adanya ancaman dari sebuah teknologi pengganti listrik berbahaya yang dikembangkan dari kristal sianida. Namun keberadaan ilmuwan ini dianggap sebagai sebuah ancaman untuk pengembangan bisnis perusahaan, dan menjadi target pembunuh bayaran pelaku intrik bisnis. Elena kemudian melaporkan temuannya ini pada agensi para Angels. Di sana Elena bertemu dengan Sabina dan Jane. Jane sendiri adalah mantan anggota M16 yang berkarakter lurus, kepala dingin, dan dapat diandalkan dalam membidik menggunakan senjata api. Karakter yang berbeda dengan Sabina yang adalah orang kaya namun berkemauan bebas 

Konflik di film ini sudah dimulai sejak awal. Bahkan pertemuan antara Sabina dan Jane menjadi riak konflik kecil yang dibawa dan dibahas terus hingga akhir film. Hingga di tengah film, kita bahkan akan dikecohkan dengan konflik yang dibuat tentang siapa sebenarnya pengkhianat dalam misi penyelamatan ini. Apakah Charlie’s Angels yang masih hanya dua orang yaitu Jane dan Sabina telah bekerja pada pihak yang benar atau justru membela pengkhianat. Menarik sekali. 

Dengan adegan pertarungan yang seru dan penggunaan stuntmant dan animasi yang canggih, sungguh film ini tidak akan membuat anda bosan mengikuti jalan ceritanya hingga akhir. 

Kehadiran Hodak, Mr. Tattoo akan membuat penonton semakin terkecoh pada siapa sebenarnya Hodak ini bekerja. Apalagi Hodak selalu mengincar Elena yang saat itu belum termasuk sebagai angels-nya Charlie. 


Dalam durasi satu jam 58 menit anda akan menikmati ‘pengkhianatan dalam pengkhianatan’. 16 tahun penantian yang tidak sia-sia. Jangan sampai anda ketinggalan film ini!

Minggu, 28 Juli 2019

Belajar Menjadi Laki-Laki dari Film Malaikat Tanpa Sayap




Dalam hidup, ga ada jaminan untuk terus bahagia, ga ada kepastian buat apapun, setiap orang bisa terlempar dari kotak rasa nyamannya, secara tiba-tiba.

Film yang sudah dirilis pada 9 Maret 2012 ini cukup menarik untuk ditonton lagi. Diperankan oleh banyak aktor dan aktris muda Indonesia menjadikan film ini semacam film filosofi kehidupan yang kemasannya ringan.

Film dibuka dengan monolog Vino tentang labeling yang ada di sekitar kita. Ketika hidup kita melekat pada pelabelan itu, dan label itu dilepas, kita bukanlah siapa-siapa. Kemudian adegan bahwa Vino dikeluarkan dari sekolahnya karena tidak membayar uang sekolah lebih dari tiga bulan, meskipun Vino telah bersikeras bahwa bapaknya adalah donatur terbesar buat sekolah Vino pada masanya.



Menceritakan kisah Vino (diperankan oleh Adipati Dolken) yang merupakan anak pengusaha kaya yang sedang bangkrut yaitu Amir (Surya Saputra). Amir digambarkan mempunyai karakter yang keras, idealis, dan penyayang keluarga. Kebangkrutan Amir membuat Mirna (Kinaryosih memerankannya dengan sangat apik) memilih meninggalkan suami dan anak-anaknya. Dialog antara Mirna dan Amir saat Mirna akan pergi adalah protret jujur masyarakat kita tentang perpisahan. Meskipun tidak pernah ada data pasti mengenai hal ini. Yaitu apakah harta memang menjadi penyebab utama perpisahan dan pernikahan. Dialog tajam yang dilontarkan Mirna dan tentu saja menjadi entry point mengapa bisa belajara menjadi laki-laki melalui film ini. Mirna setengah berteriak mengatakan pada suaminya, Amir, “Suami lain bahkan mencuri untuk bisa ngasih makan keluarganya.”

Tentu saja ini adalah pembelajaran yang salah. Namun, bila kita mau menggeser sedikit sudut pandang kita menjadi positif, dialog itu memberikan pesan bahwa seorang laki-laki diharapkan menjunjung tinggi keutuhan keluarganya meskipun badai kehidupan sedang menimpa. Ini tidak bisa ditelan sebegitu mudahnya. Dalam setiap perpisahan tentu ada pilihan yang sulit sebelumnya. Amir digambarkan sebagai seorang suami yang memilih untuk tetap bersama keluarganya dan tidak meninggalkan untuk memilih menyendiri saat mengalami kebangkrutan.

Sialnya, saat Mirna mengatakan kalimat itu, Vino mendengar ucapan ibunya dan membuatnya berpikir bahwa ‘sepertinya menghalalkan cara untuk keluarga itu baik adanya’.

Kita memang hidup dalam kotak-kotak, dalam sekat-sekat, pelabelan. Dan saat label kita dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi.

Di saat keriuhan hati karena perpisahan antara Mirna dan Amir, Wina (adik Vino – diperankan oleh Gecha Tavvara) mendapat kecelakaan di kamar mandi, dibawa ke rumah sakit, memerlukan tranfusi golongan darah A dengan rhesus negative. Menurut saya, scene dari perpisahan hingga kecelakaan yang menimpa Wina berjalan begitu cepat. Belum lagi di rumah sakit Vino bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda) serta calo organ (diperankan oleh Agus Kuncoro). Bila sebelum nonton film sudah membaca sedikit sinopsisnya, dari adegan ini tentu sudah menemukan ending film. Meskipun dikemas cukup berliku dengan adanya roman antara Vino dan Mura sebelumnya. Sebab, adegan ini terjadi pada 30 menit awal film.


Masuk ke babak konflik kedua – setelah konflik pertama tentang Vino dan keluarga intinya cukup reda dengan terselesaikannya masalah biaya rumah sakit dan menebus kembali rumah Amir yang disita bank. Tanpa sepengetahuan siapa pun Vino mengadakan perjanjian dengan Agus Kuncoro (sebagai calo) bahwa Vino siap mendonorkan organ dalamnya – berupa jantung. Agus Kuncoro dengan kemampuan aktingnya mampu menekan psikis Vino. Dialek dan mimik muka Agus Kuncoro sangat sesuai dengan casting ini.  Dua jempol untuk peran anatagonis ini, Mas Agus!

Konflik kedua adalah tentang Vino dengan kegundahannya setelah mengetahui calon penerima donasi organnya adalah Mura.
Adipati Dolken dengan perannya sebagai Vino kali ini mengajarkan kepada penonton untuk rela berkorban demi keluarganya. Meskipun, saya yakin, tidak semua orang dapat dengan mudahnya dengan ide yang diambil oleh Vino ini. Vino berubah dari sosok lelaki muda yang tidak peduli dengan keluarga menjadi sebaliknya.



Sementara penonton mendapat pelajaran ‘how to be a good son’ dari sosok Vino, Amir-bapak Vino- mengajarkan penonton tentang ‘how to be a good daddy’ dengan tetap menunjukkan bagiannya untuk menghidupi anak-anaknya sebagai sopir taksi, yang bahkan mendapat penghakiman melalui lirikan mata. Juga, Wina mendapatkan perundungan dari teman-temannya karena mengetahui bapaknya adalah seorang pengemudi taksi. Ini juga cermin nyata bahwa masyarakat kita masih lekat dengan perundungan karena jenis pekerjaan, apalagi perundungan kelas sosial. Miris.

“Kadang untuk ninggalin temen yang kita sayang, kita perlu membuatkan marah dan sakit hati, agar saat kita meninggalkan kita tidak terlalu merasa kehilangan”
“Kematian itu seperti di tikungan jalan. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di balik tikungan itu. Dan mungkin itulah saat kita mati.”


Scene lukisan pasir
Tentang sosok laki-laki dalam dongeng yang bernama Amarah dan seorang perempuan yang bernama Bening. Amarah yang mau menyumbangkan hidupnya untuk bening, dalam dongeng lukisan pasir itu, membuat Mura bersedih karena ia yakin tidak ada orang yang mau menyumbangkan hidup baginya. Dan itu dikatakannya pada Vino, seseorang laki-laki yang sayang padanya dan akan segera mendonorkan jantung untuk Mura. Pada saat kondisi tersebut, kondisi Mura sudah semakin lemah. Pilihannya hanya menantikan pendonor jantung atau menjemput kematian di usia yang masih sangat belia.
Cinta bukan masalah memiliki, cinta adalah keberanian pergi atau ditinggal pergi.


Memasuki delapan menit akhir, adegan Mirna ingin menculik Wina di rumahnya sendiri. Bersama dengan seorang laki-laki. Sementara Vino menyiapkan sedang surat pamitan dengan hati hancur dan menenggak beberapa butir obat pemberian Calo. Intercut antara usaha penculikan Wina oleh Mirna dengan adegan Vino menjemput maut sungguh manis untuk menggambarkan akhir konflik yang kian tajam di bagian akhir. Akhirnya Amir muncul dari luar rumah dan terjadi perseteruan dengan Mirna. Perseteruan ini membuat teman  Mirna menembak Amir di depan Wina saat Amir berusaha melarang Mirna untuk membawa paksa Wina. Amir jatuh tersungkur karena tembakan di dada kirinya, Vino terjatuh di kasur dalam kamarnya sendiri setelah menenggak beberapa butir obat berwana kuning. Tidak dijelaskan itu obat apa.

Kegundahan Mura saat akan dioperasi.
Mura yang sedang mempersiapkan operasi dengan didampingi papanya (yang diperankan oleh Ikang Fawzi)sebenarnya sedang menantikan Vino untuk datang dan menemaninya menjelang operasi. Ketakutan ini wajar dan umum terjadi di kalangan kita ketika seseorang akan menghadapi operasi. Apapun itu bentuknya. Amir menggantikan peran Vino untuk donor jantung, di detik-detik terakhir.  Demikian pesan Amir kepada paramedis dan si calo di depan rumah sakit. Bagian akhir film ini sungguh sangat mendebarkan. Ditutup dengan Mura mendatangi makam. Bersama Vino. Makam Amir. Sementara papa Mura akhirnya juga menjadi papa bagi Wina
Tapi kadang dalam hidup kita tidak dihadapkan pada pilihan. Dalam hidup ga ada jaminan untuk terus bahagia. Seperti burung-burung senja itu, yang bisa mendadak melayang jatuh, ga pernah bisa kembali ke sarang mereka, tapi bagi aku dan Mura waktu pernah mematahkan sayap-sayap kami dan waktu pula yang menyembuhkannya kembali.


Kesimpulan akhir saya buat film ini adalah bahwa film ini mematahkan stigma bahwa film-film Indonesia sarat dengan roman picisan yang plotnya remeh dan mudah ditebak. Suka dengan film Indonesia yang mendidik ini!


MALAIKAT TANPA SAYAP
Sutradara            : Rako Prijanto
Produser             : Chand Parwes Servia
Pemeran             :
-          Adipati Dolken sebagai Vino
-          Maudy Ayunda sebagai Mura
-          Ikang Fawzi sebagai Papa Mura
-          Surya Saputra sebagai Amir (Ayah Vino)
-          Agus Kuncoro sebagai Calo
-          Kinaryosih sebagai Mirna (Ibu Vino)
-          Geccha Qheagaveta sebagai Wina
Musik                    : Tya Subiakto
Tanggal rilis         : 9 Maret 2012


Rabu, 24 Juli 2019

LUKA BATIN MAY: DISEBABKAN OLEH EKSTERNAL TAPI MENULAR - (27 STEPS OF MAY)





Membaca judul film ini melalui selebaran yang dibagikan saat acara Woman March Jakarta, jujur, membuat saya bertanya-tanya penuh. Ini selebaran apa? Oh, film Indonesia. Film ini siapa yang main? Ah, ga kenal. Lalu masih terus bertanya: siapa penulis naskahnya? Huh, ga kenal juga. Kelar.
Selebaran yang ada di tangan saya waktu itu gambarnya persis seperti poster filmnya. Tanpa tagline apapun. Karena memang bukan buku yang harus diberikan tagline mungkin.

Film ini ditayangkan pertama pada tanggal 27 April 2019. Menarik, ya! Karena judulnya May tapi kok dirilis di bulan April. Disutradarai oleh Rhavi Bharwani, film ini menarik karena dapat dijadikan refleksi kepada masing-masing kita bahwa memelihara luka batin itu tidak akan pernah mendapatkan keuntungan. Sedikitpun. Sebaliknya. Justru akan dapat merusak diri sendiri dan sekitar. Juga menular.
Secara bodoh mungkin dapat saya tuliskan bahwa 27 Step of May, kemudian saya singkat dengan 27STOM, adalah film yang dibuat sebagai antithesis bahwa luka batin itu seyogianya memang diselesaikan dengan cara yang baik, benar, dan tidak perlu berlama-lama.   


Luka batin itu seyogianya memang diselesaikan dengan cara yang baik, benar, dan tidak perlu berlama-lama.

WOW…!

Dari sudut pandang yang lain film ini juga merupakan kritik keras terhadap kontruksi pemikiran masyarakat kita tentang bagaiamana tata laksana hukum dan rehabilitasi terhadap peristiwa perkosaan di negara ini. Bahwasanya korban juga harus mulai diperhatikan rehabilitasinya bukan malah sebaliknya, mendapat persekusi karena urusan pakaian.

Kok bisa?
Scene film dimulai dengan adegan anak perempuan SMP yang berada di pasar malam dengan raut yang bahagia kemudian dipotong dengan adegan perkosaan oleh beberapa (sepertinya ada tiga casting pemerkosa) yang tangannya bertato. Jelas, ini adalah penyampaian pesan ke masyarakat bahwa orang bertato itu  adalah bukan orang yang baik. Bisa melakukan tindak kejahatan di mana saja dan pada siapa saja. Stigma yang telah melekat ini mungkin memang tidak dapat disalahkan begitu saja. Namun, apakah stigma ini selamanya baik? Bisa kita pikirkan bersama, bukan. Meskipun….sekali lagi meskipun, sampai sekarang mungkin belum didapati tokoh politik atau tokoh agama yang mengenakan tato di tubuhnya.

Pesan awal seyogianya dapat ditangkap dengan jelas oleh orang dewasa yang menonton film ini. Seyogianya.

Masuk ke scene inti, diinformasikan kisah ini terjadi delapan tahun kemudian. Berarti tokoh May berusia sekitar 20-23 tahun. 20-an awal.  Digambarkan aktifitas harian antara May (Raihaanun) dengan Bapak (Lukman Sardi) sebagai pengrajin pakaian boneka. Mereka menjahit bajunya, memasangkan Pernik-pernik hingga mengemas dengan menggunakan kotak mika. Aktifitas ini mereka kerjakan tanpa berkata-kata. Kekuatan akting Raihaanun dalam film ini patut diacungi dua jempol. Karena kalau lebih dari dua, saya tidak tahu jempol siapa yang bisa saya pinjam untuk saya acungkan padanya. Mengingatkan saya pada film Silence of the Lamb yang kuat dengan acting Anthony de Hopkins saat memerankan Hannibal Lector dengan raut muka yang begitu datar. Bedanya, di 27STOM ini Raihaanun harus benar-benar berakting dengan raut wajah yang sangat datar untuk menunjukkan bahwa dia adalah tokoh May yang menyimpan trauma dan trauma itu membuatnya melakukan aktifitas secara runut hari demi hari.
Adegan ini juga cukup membosankan bagi penonton, tentunya. May membangun dunianya sendiri tidak melebihi pintu kamarnya. Kalaupun harus keluar kamar, itu dia lakukan untuk makan di meja makan. May mengenakan pakaian yang sama berwarna krem muda yang ia setrika setiap pagi ketika akan dipakai. Tidak lupa kaos kaki putih setinggi bawah lutut. Juga makan makanan yang serba putih: nasi putih, telur kampung, tahu putih rebus, dan tauge. Alat makan yang dipakainya juga serba putih. Sampai di bagian ini penonton tentu saja dibawa ke sebuah pertanyaan besar: mengapa putih? Apakah ada kaitan yang erat antara penderita trauma pasca perkosaan dengan atribut serba putih ini.




Sementara akting Raihanun harus diadu dengan kemampuan akting aktor kawakan Lukman Sardi yang pada film ini digambarkan sebagai bapak yang raut mukanya selalu suspicious  terhadap tingkah laku May, anaknya.

Pada scene adalanya kebakaran pada menit ke-12, yaitu kebakaran di tetangga mereka, Bapaknya May dengan segala kebingungannya harus memaksa May untuk keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. May bersikeras untuk tinggal dan bapaknya semakin memaksa May untuk keluar dengan cara menariknya. Bagian ini seperti menarik kembali ingatan May kepada trauma delapan tahun lalu: perkosaan yang dialaminya.

Surprisingly! Ketika May teringat akan kenangan itu, yang kemudian dia lakukan adalah berusaha menyakiti tubuhnya sendiri dengan menyayat nadi kirinya di kamar mandinya sendiri.

Kehadiran Verdi Soleman sebagai kawan dari bapaknya May yang setiap hari mengantar bahan baku boneka dan mengambil boneka yang selesai dihias cukup membuat film ini terasa segar di tengah scene yang tanpa dialog. Bagaimana Verdi menjadi kawan yang memahami ‘batas’ yang tidak boleh diinjaknya yaitu pintu rumah May. Juga sikap sok tau Verdi tentang hal supranatural yang menimpa May dan bapaknya cukup menyegarkan. Verdi pada kemunculan ke sekian membawa paranormal yang melakukan ritual untuk mengusir setan yang dianggap menempel pada May.

Bagian ini cerminan bagi sekitar tentang bagaimana masyarakat kita mencari jalan keluar untuk masalah psikologis dengan membenturkannya dengan ritual agamawi atau bahkan hal kesupranaturalan. Miris? Ya. Tapi ini cerminan nyata. Namun, tugas siapa ini sebenarnya untuk meluruskannya?

Film memasuki bagian puncaknya dengan kemunculan lubang intip di dinding yang cukup mengganggu konsentrasi May. May berusaha acuh dengan lubang itu, tetapi mau tidak mau tetap melirik dan memberikan perhatian. Pertama May berusaha menutup lubang itu dengan lakban. Kemudian muncul tali warna dan dilanjutkan dengan tikus putih. Kehadiran tikus putih ini cukup menyita perhatian May karena May harus menangkap dan mencari toples untuk tempat hidup si tikus, pada scene berikutnya, si tikus ditukar oleh bunga. May mulai mengetahui bahwa di balik tembok yang berlubang itu ada tukang sulap dengan kostum tuxedo yang cukup menarik hati. Diperankan oleh Ario Bayu. Kerling mata dan raut mimik Ario Bayu cukup dewasa untuk memerankan pria yang mampu memikat hati wanita yang beranjak dewasa. Tidak dijelaskan sebelumnya bagaimana awal kisah mereka bisa bertetangga. Dan bagian ini cukup membuat penonton  bertanya-tanya.

Kehadiran pesulap ini membawa ‘pesan’ bahwa pesulap dapat melakukan perubahan yang mendadak atas suatu situasi. Mengapa tidak profesi yang lain?



Perubahan sikap May ini mulai diamati oleh bapaknya. Dan menceritakan perubahan yang dimaksud pada Verdi Soleman, kawan serta rekan bisnisnya. Dan Verdi datang kembali membawakan paranormal kedua untuk rumah May. Pada saat itu, lubang intip di kamar May semakin besar. Sementara rutinitas keseharian May dan bapaknya tampak sangat menjemukan. May kembali hanya makan makanan yang serba putih: nasi putih, sayur tauge, tahu putih rebus, dan telur rebus. Raihaanun memerankan tokoh May dengan tangan tremor dengan sangat baik. Sementara itu kelincahan tangan Lukman Sardi saat melakukan crafting juga saya yakin butuh latihan yang tidak sebentar. Karena scene yang di zoom-in menampakkan keluwesan itu. Bravo untuk mas Lukman!
Pada scene ketika lubang intip makin besar dan Ario Bayu berusaha berkenalan dengan akting pantomime pesulap untuk memegang tangan May, itu membuat May kembali trauma. Ia kembali merasa seperti akan dipaksa dan kembali terlintas di benaknya peristiwa perkosaan itu.

Pada menit ke-60, konflik mulai nampak ketika Lukman Sardi menampakkan konflik internal emosinya dengan berlatih tinju di kamarnya sendiri dengan menggunakan samsak. 

Ada amarah yang tidak selesai. Ada emosi yang  tidak dituntaskan. Antara masa kini dan masa lalu.

Sementara itu pada saat yang bersamaan, May juga sedang bergulat dengan kondisi emosinya. Ketika si pesulap memainkan alat sulap berupa borgol dan sarung tangan. Hal ini mengingatkan pada May tentang trauma ketika tangannya dicengkeram pemerkosa saat perkosaan itu terjadi. Sebuah pengingat bagi May dan akhirnya May memilih berlari sembunyi dan melakukan self-harm. Padahal saat itu May sudah mulai berkreasi dengan baju yang baru untuk boneka-bonekanya. May membuat baju model baru untuk boneka-boneka dengan model baju tuxedo pesulap lengkap dengan topi yang tinggi.

Sejak scene May dan bapaknya mengalami konflik internal ini, terasa alur film seperti cepat. Terkesan ngebut  malah. Mungkin diharapkan segera sampai di akhir cerita atau akhir konflik. Namun menurut saya alur film menjadi kurang asyik. Padahal konflik yang diangkat saat May cemburu dengan adik kandung si pesulap bahkan menirukan gerakan menjadi asisten sulap hingga memotong sendiri rambutnya mengikuti model si adik kandung itu sangat menarik. Ini akan menjadi pembelajaran bagi penonton bahwa sesungguhnya penderita gangguan psikis juga mengalami fase tertarik dengan lawan jenis. Bukankah ini akan menarik untuk disampaikan pada awam bila berdasarkan keilmuan yang kuat.

Belum lagi saat bapaknya May justru terjerat pada pusaran amarahnya sendiri hingga membawa pengaruh buruk terhadap pekerjaannya sebagai petinju, itu cukup menarik. Namun intercut antara acting lukman sardi saat bertinju dan kemudian di penjara dengan adegan May dengan si pesulap cukup membuat lompatan asumsi dan teka-teki bagi penonton. Padahal, sekali lagi menurut saya, kalau itu dibuat lebih pelan mungkin justru akan lebih menyenangkan bagi penonton.

Digambarkan ketika bapaknya dipenjara dan tidak pulang, justri memberikan pelajaran kepada May untuk bisa menyiapkan makanannya sendiri serta mau makan jenis makanan lain selain yang berwarna putih. Sebenarnya ini adalah perkembangan yang baik bagi May yang seyogianya disaksikan oleh bapaknya.  Namun, Lukman Sardi yang memerankan bapaknya May justru ‘sibuk’ dengan amarahnya yang sulit dikendalikan olehnya sendiri. Saat adegan May dan bapaknya makan satu meja lagi, tampak May mulai responsif dengan makanan yang berbeda dan mau menggeser piringnya. Meskipun antara keduanya masih belum ada dialog.

Tanpa sepengetahuan bapaknya, hubungan May dengan pesulap semakin dekat dengan makin besarnya lubang intip yang tadinya kecil hingga dapat dilewati seorang dewasa. Bahkan May juga pernah menolong si pesulap saat ia terjebak di alat sulapnya yang cukup membahayakan. Hal ini menunjukkan bahwa May, sebagai penderita gangguan psikologis pasca trauma, ternyata memiliki respon yang baik untuk menolong sesame ketika orang lain mendapat kesusahan. Ada respon positif dalam sikap May.

Pada adegan si pesulap masuk kamar May untuk menolong May, dan akhirnya bapaknya mengetahui hal itu, bapaknya May justru menghajar si pesulap karena beranggapan bahwa si pesulap akan mencelakai May. Pergulatan antara pesulap dan bapaknya, justru membuat May makin terpuruk secara psikis dan itu sangat mengingatkannya akan peristiwa lama. May kembali masuk ke kamar mandi, menguncinya dan kembali menyayat tangannya sendiri. Tata kosmetik yang sempurna untuk bekas luka May di tangan yang di-zoom in­ saat May menyayat luka baru.

Detail yang dikerjakan dalam film ini sangati istimewa.

Menjelang akhir film, konflik yang terjadi ditengahi lagi oleh kehadiran Verdi Soleman yang kembali menampar Bapak dengan kata-katanya bahwa “Apapun yang sudah kejadian, ga bisa dibalikin lagi. Di luar kontrol kita, dan bukan salah kita.”

Apapun yang sudah kejadian, ga bisa dibalikin lagi. Di luar kontrol kita, dan bukan salah kita.

Quote yang menarik, bukan? Karena sering kali kita lupa bahwa kita selalu ingin mengubah masa lalu yang jelas tidak dapat kita lakukan.


Alur yang menarik menjelang akhir film adalah ketika May dengan mengenakan pakaian seragam SMP meminta role play diperkosa oleh Pesulap di atas meja. Pesulap semakin paham perannya untuk membantu May dalam menyembuhkan traumanya. Closing film ini ditutup dengan cukup menyenangkan ketika May ganti baju serta memeluk Bapak dan berkata, “bukan salah Bapak.”

-----m.a-----

Sabtu, 20 Juli 2019

JEBAKAN MANIS




Rasanya ini adalah keputusan besar yang salah. Ketika aku melamar pekerjaan baru sebagai asisten riset di laboratorium ini. Meskipun aku tahu bahwa Prof. Naryo adalah pribadi yang baik. Sebenarnya Prof. Naryo juga menyukaiku-kinerjaku, maksudnya-dan selalu berharap aku tinggal bekerja lebih lama bersamanya. Untuk banyak penelitian selanjutnya, begitu katanya padaku. Tapi aku sungguh sangat tidak nyaman dengan situasi yang aku alami hari demi hari sejak aku bekerja di sini. Entahlah… Aku pun galau karena aku belum menemukan pekerjaan pengganti yang tepat juga. Bagaimana nasib ibuku kalau aku harus berhenti bekerja dan tidak punya penghasilan. Ini sungguh menjadi mimpi buruk buatku beberapa malam terakhir.

Laboratorium ini adalah laboratorium yang cukup tersohor di kotaku. Begitu pula Prof. Naryo, adalah peneliti yang terkenal dan kredibel. Hasil penelitiannya akurat, valid, dapat diterima serta diaplikasikan secara mudah. Prof. Naryo mempunyai banyak klien yang ingin selalu bekerjasama dengannya namun keterbatasan staff lab membuatnya harus menolak klien-kliennya tersebut. Sebenarnya sebuah kebanggaan aku bisa bekerja dengan Prof. Naryo di laboratoriumnya, dan keluarganya juga sangat baik padaku. Apalagi anak kedua Prof. Naryo adalah temanku sekolah dulu di SMU. Jadi, wajar Prof. Naryo dan istrinya juga menganggap aku seperti anaknya mereka sendiri.

Sejak aku diterima bekerja di laboratorium ini aku langsung menjadi asisten peneliti, berpartner dengan Dewi. Dewi itu teman satu angkatan denganku namun dia bekerja di sini lebih dulu. Jadilah aku berpartner dengannya. Aku senang. Tugasku adalah mendampingi Prof. Naryo dan beberapa peneliti lain serta mencatat dan membuat laporan dari progress penelitian yang sedang berlangsung. Dewi juga mempunyai tugas yang sama persis denganku. Namun kami beda divisi. Aku divisi penelitian dengan objek penelitian hewan sementara Dewi di bagian tanaman.

----
Dewi:
Aku akrab dengan Mila sejak awal kuliah. Aku bersyukur sekali dia saat dia mau aku ajak bergabung bekerja pada prof. Naryo. Karena dengan dia aku bisa share  berbagai hal mulai dari pekerjaan, cara menulis laporan hingga gossip artis hingga cowok gebetan. Hehehe ….
Mila, anak yang cerdas, mempunyai kemampuan analisis yang bagus. Apalagi ketika dia harus menarik kesimpulan dan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti. Caranya membuat laporan yang sederhana namun mudah dibaca juga membuat dia disukai tim peneliti termasuk Prof. Naryo. Namun, itu menjadikan Mila juga agak tidak disenangi oleh beberapa tim peneliti. Mereka bilang Mila cari muka di depan Prof. Naryo. Padahal aku yakin, Mila tidak begitu orangnya.

----
Saat masa percobaan dulu, manajer HRD yang bernama bu Diana, sudah memberitahukan padaku bahwa ada satu ruangan yang aku tidak boleh mengakses. Dan itu akan membuat karirku runtuh kalau aku melanggar aturan itu. Ruangan yang dimaksud adalah sebuah gudang penyimpanan preparat dan objek penelitian. Ruangan itu tepat berada di belakang ruangan utama laboratorium tapi pintu masuknya berlawanan arah dengan ruang utama, sehingga harus melewati koridor sepanjang kira-kira 25 meter dari ruang utama. Sementara ruang kerjaku bersama Dewi berada di depan ruangan utama. Butuh waktu sekitar 3 menit untuk berjalan dari ruanganku ke ruang yang tidak boleh diakses tersebut. Bagiku ini bukan masalah karena dengan pekerjaan utama ini saja aku sudah cukup kelelahan.
------

Prof. Naryo:
Mila ini adalah salah satu karyawan yang lugu, polos dan baik. Sebagai anak yatim dia selalu berbakti pada ibunya. Mana mungkin aku menyakitinya. Bahkan aku selalu membayarkan gajiku melalui bagian finance sebelum tanggal di kontrak kerja. Selain hatinya lembut dia juga suka menolong, tapi aku sering agak terganggu dengan instingnya dalam menganalisis data dan keadaan….
-----

Aku sering pulang larut, karena proses penelitian tidak mengenal jam kerja saja. Para peneliti pendamping selain Prof. Naryo juga mengatur jadwal kerjanya secara bergiliran, sehingga mereka juga tetap membutuhkan bantuanku untuk mencatat progress penelitian. Ada lima peneliti pendamping yang selalu berada di sekitar Prof. Naryo. Salah satunya adalah dokter Rio. Dokter berkacamata minus ini telah lama menarik perhatianku karena dia satu-satunya peneliti pendamping yang sering menemani Prof. Naryo di malam hari. Kami sama-sama di divisi animal. Sangat sedikit bicara. Dia akan menulis di post-it pesan-pesan yang dia butuhkan untuk kubantu. Kalau kutaksir usianya mungkin hanya terpaut 3 tahun di atasku. Malam ini dokter Rio mengajakku lembur.
“Mila, kamu bisa lembur malam ini? Aku butuh bantuanmu,” tanya dokter Rio. Aku mengangguk, “Bisa Dok, tapi aku ndak bisa sampai pagi ya. Aku janji mengantar ibuku ke dokter besok pagi.” 

“Engga sampai pagi kok, Mil. Mungkin sekitar jam 12 sudah selesai dan kamu bisa pulang. Aku mau kamu nungguin lab dulu, aku mau ambil preparat malam ini sebelum jam 10. Bisa, kan?” tanya dokter Rio.

“Iya, Dok. Aku tungguin di sini sambil menyelesaikan laporan,” jawabku.
“Nice, Mil” katanya sambil berlalu.
Dari ekor mataku aku tau dokter Rio berjalan menuju gudang tempat menyimpan preparat. Kupikir tadinya dia akan pergi keluar untuk mengambil di rumah sakit. Ahh… biar saja dia lakukan pekerjaannya. Sementara aku pun juga masih harus menyelesaikan laporanku.

Hampir jam sepuluh malam Dokter Rio belum kembali ke lab. Sementara aku lapar. Aku belum makan sejak siang.
“Dok, kamu balik ke lab jam berapa? Aku lapar nih” tulisku di pesan WhatsApp.  

Tidak lama aku dengar ada bunyi HP dari arah lab, ahh… berarti dokter Rio tidak pergi membawa HP-nya. Perutku makin keroncongan. Kuhabiskan saja biscuit milik Dewi yang ada di ruanganku.

Sekitar jam 11 malam aku baru mendengar ada langkah kaki mendekat. Kuduga itu dokter Rio. Seperti terengah-engah dan tergesa dia masuk ke lab utama. Aku menyusul di belakangnya.

“Dok, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanyaku khawatir. Buru-buru aku ambil satu gelas air minum dalam kemasan lalu kusodorkan padanya.

Thanks Mil. Ya aku baik-baik kok” jawabnya sambil duduk di kursi yang ada di lab utama.

Ada yang janggal yaitu aku lihat ada bercak darah di jas putihnya. Seharusnya semua preparat di gudang itu dalam keadaan beku. Karena hewan yang masih hidup ada di ruang karantina di luar. Aku diam saja melihat kejanggalan itu. Takut dokter Rio tersinggung.


“Mila, kita pulang saja ya… kamu pulang gih, kita batal lembur. Aku sepertinya masuk angin. Badanku meriang”

“Hmm… Ok Dok, tapi sedikit lagi ya, aku mau beresin laporan dulu sedikit lagi.”
“Ya sudah… Aku jalan duluan ya,” pamitnya. “Baik…” sahutku sambil kembali ke ruanganku.

-----

Rio:
Benar apa yang disampaikan oleh prof. Naryo beberapa minggu lalu. Mila ini adalah salah satu staff yang harus diwaspadai. Dia sangat jeli melihat situasi. Aku sebaiknya berhati-hati dengannya. Seperti baru saja, sepertinya dia menaruh curiga padaku.
----

Tidak lama berselang dari aku masuk ruangan, ada langkah kaki keluar lab utama. Itu pasti dokter Rio berjalan keluar. Tapi kok seperti mengarah ke koridor ya. Ah… aku berusaha untuk menghiraukan itu karena laporanku masih harus aku kerjakan.  
‘Beep … beep …’ penanda jam 12 berbunyi dari arlojiku. Aku harus bergegas pulang sepertinya. Aku bersiap, mematikan PC di ruanganku dan merapikan meja, ketika aku mendengar ada orang yang berbicara. Suara siapa ya itu?
Aku keluar dari ruanganku dan terhembus hawa dingin. Suhu ruangan di lab utama itu harus terjaga sesuai standar. Kalau tidak akan membuat beberapa  penelitian gagal. Aku cek indikator suhu yang ada di sebelah pintu masuk lab utama. Dan semuanya normal. Suara orang ngobrol masih terdengar sayup-sayup di tengah malam ini. Aku jadi tertarik mencari sumber suara da nasal hawa dingin ini. Sambil kurapatkan jaketku aku perlahan mengendap menyusuri koridor.
Di benakku hanya tergambar wajah bu Diana, HRD, yang mengingatkan aku untuk tidak masuk ke ruangan terlarang itu. Tapi aku penasaran.

Semakin dekat dengan ruangan itu aku semakin pelankan langkah kakiku. Untung hari ini aku pakai sepatu sneaker yang solnya bukan karet, jadi tidak ada suara derit sol karet berpadu dengan lantai keramik.

Ketika aku semakin dekat dengan ruangan itu, ternyata ruangan itu terbuka pintunya. Ini melanggar standar bahwa siapapun yang masuk atau keluar ruangan lab itu harus menutup pintu. Ternyata benar obrolan itu berasal dari ruangan itu. Suara prof. Naryo dan dokter Rio.

Tidak jelas apa yang mereka bahas tapi aku mencium bau anyir dari ruangan itu. Aku mencoba mengintip ke dalam, hanya terlihat sepatu perempuan. Sepatu perempuan?! Bukankah hanya ada dua lelaki di salam sana?

Aku semakin penasaran. Tidak sadar aku terpeleset genangan air di dekat pintu. Ini bukan air ternyata. Ini darah!

Gubraaakkkk! Aku menubruk pintu yang telah terbuka sedikit karena terpeleset dan jaketku terkena darah. Sepersekian detik aku sempat melihat potongan tangan dan kaki manusia. Sebelum aku mendengar gertakan suara prof. Naryo, “Mila, apa yang kamu lakukan di situ!”

Aku belum menyadaari situasi, tetiba tengkukku seperti dihantam tongkat. Pandanganku gelap.


-------

Bagian 2

Diana:
Setiap ada calon pelamar yang melamar ke tempat ini dan perempuan, entah kenapa aku jadi was-was. Karena hampir semua berakhr dengan misterius. Apalagi bila anak gadis seperti Mila itu. Dari psiko-testnya menggambarkan anak ini cerdas dan rasa ingin tahunya tak dapat dibendung. Aku khawatir Mila menjadi yang berikutnya. Oleh karena itu aku sangat tegas kepadanya hanya agar dia tidak telalu mengumbar rasa ingin tahunya itu di lingkungan sini. Aku juga tidak tahu pasti untuk apa prof. Naryo selalu menerima karyawan yang perempuan dan lajang. Kartika, staff finance bagian pajak yang diterima bersama Mila juga anak yang cerdas. Kalem dan memiliki mata yang indah. Gadis penyuka warna hujau muda ini selalu terlihat ceria. Pulang pergi bekerja selalu diantar oleh pacarnya. Tapi perasaanku terhadap anak ini tidak enak juga. Tapi kan …. Kartika akan jarang berada di lab. Jadi aku rasa aku tidak perlu memperingatkannya setegas pada Mila. Tetapi akhir-akhir ini aku tahu Prof. Naryo mulai tidak suka dengan Kartika sejak dia kuduga tidak mau diajak untuk mengakali pajak . Sekali lagi semoga perasaan ku ini salah.
-------

Ibu Mila:
“Mila, kamu tidak lupa kan kalau kita ada janji dengan dokter hari ini jam 9? Kamu pasti banyak kerjaan ya? Ibu tunggu ya. Eh iya, ibu masak sayur lodeh kesukaanmu nih. Makan di rumah saja ya Mil” –pesan WhatsApp terkirim.
Tapi didapati hanya centang satu di layar. Ini sangat aneh. Mila tidak pernah mematikan telepon genggamnya. Ibu mulai menenangkan diri, mungkin Mila beneran sibuk.
-----

Aku mulai mengernyit mencoba membuka mata. Rasanya perih sekali mataku . Ahhh…. Kenapa gelap sekali. Ahhh …. Mataku ditutup rupanya. Bau-bauan tajam menyengat dimana-mana, hingga aku tidak bisa menengarai. Mulutku tersumpal. Aku tidak bisa berbicara bahkan mengeluarkan kata-kata karena ikatannya sangat kuat. Aku ini di mana ya?

Aku mencoba menggerakkan tanganku yang terikat sebelum aku menerima tendangan di perutku. Uuughhhh …. Nyeri sekali rasanya. Lapar dan nyeri bercampur menjadi satu. “Sudah kamu diam saja Mil.” Aku yakin sekali itu suara dokter Rio. Dengan aroma rokok yang keluar dan mulutnya bercampur bau bir. Aku mengerang kesakitan tapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Tapi aku tetap mencoba teriak sekeras mungkin.

Aku jadi tahu bahwa aku ini masih di lab. Mungkinkah ini di ruang penyimpanan preparat? Ahh …. Aku mulai ingat ketika aku jatuh terpeleset tidak lama tengkukku seperti dihantam benda keras. Mungkinkah dokter Rio yang melakukannya padaku. Mengapa dia ingin menyakitiku seperti itu? Apa salahku padanya? 

Aku terus mencoba berteriak dengan suaraku yang tercekat oleh sumpal kain ini. Aku mencoba membuat orang di luar tempat ini mendengar dan mungkin bisa menolongku. Aku terus mencoba berteriak dan tidak peduli saat berkali-kali pula sepatu dokter Rio melayang di paha, perut serta punggungku untuk menyuruhku diam. Aku makin berontak. Tapi aku tahu ada air mata yang keluar dari mataku karena rasa nyeri tendangannya. Teriakanku berubah menjadi tangisan karena menahan nyeri di punggung dan perutku. “Sudah Rio, hentikan!” aku dengar suara prof. Naryo memberi perintah. Aku masih menangis karena memang sangat sakit. Ada langkah kaki mendekatiku, entah siapa. Tapi tidak lama aku merasa orang itu membuka ikatan penutup mataku. Pelan-pelan aku melihat dokter Rio berdiri di depanku dengan jasnya semalam yang penuh bercak darah. Aku lihat ada sepatu perempuan warna cokelat dengan hak yang tidak terlalu tinggi, aku mengingat-ingat sepertinya tidak asing dengan sepatu itu, dan di sebelahnya aku melihat ada tas ransel berwarna hijau muda. Aku tahu itu milik siapa. Di lemari pendingin aku sempat melihat ada jajaran toples berisi jantung, paru-paru, potongan tangan dan kaki manusia. Sebelum aku menyadari semuanya, aku mendengar suara prof. Naryo  berkata, “Selamat begabung di lab ini Mila…hahahahhaha.”

Dan untuk kedua kalinya tengkukku dihantam benda keras, nyeri sekali. Sebelum semuanya kembali gelap.



-----m.a------












MENILIK KONTROVERSI DARI SUDUT YANG LAIN: KUCUMBU TUBUH INDAHKU (MEMORIES OF MY BODY)

Film yang cukup fenomenal ini dirilis pada bulan keempat tahun 2019 dan mulai tayang di bioskop pada tanggal 18 April. Banyak pro dan k...